MAKALAH
ILMU BUDAYA DASAR
MUSEUM
PANCASILA SAKTI (LUBANG BUAYA)

Disusun Oleh
1.
Adinda Martha
(20416175)
2.
Boby Wiliam
(21416458)
3.
Grafiky
Desriyanto (23416090)
4.
M Alvin R B
(24416708)
5.
Rony Fajar
Setiawan (26416678)
6.
Rizky Setyawati
Putri (2D414216)
7.
Wiratama
Pratikta (2C414292)
JURUSAN
TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2017
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga
penyusun dapat menyelesaikan tugas Makalah Ilmu Budaya Dasar yang
merupakan hasil dari kunjungan ke Museum Pancasila Sakti
(Lubang Buaya).
Makalah ini
disusun untuk menjelaskan sejarah berdirinya Museum dan
fasilitas yang ada.
Makalah
ini
dapat terselesaikan tidak lepas karena bantuan dan dukungan dari berbagai pihak
yang dengan tulus dan sabar memberikan sumbangan baik berupa ide, materi
pembahasan dan juga bantuan lainnya yang tidak dapat dijelaskan satu persatu.
Diharapkan dengan hadirnya makalah ini dapat memberikan gambaran
tentang Museum Pancasila
Sakti (Lubang Buaya).
Akhirnya penyusun menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu dengan segala kerendahan hati, penyusun mohon para pembaca dan
pembimbing berkenan memberikan saran atau kritik demi perbaikan makalah berikutnya.
Semoga karya ini dapat memberikan suatu manfaat bagi pembaca
dan semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini.
Depok, April 2017
Penyusun
MONUMEN PANCASILA SAKTI
Lubang Buaya adalah sebuah tempat di kawasan Pondok Gede, Jakarta yang menjadi tempat pembuangan para korban Gerakan 30 September pada 30 September 1965. Secara spesifik,
sumur Lubang Buaya terletak di Kelurahan Lubang
Buaya di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Lubang Buaya pada terjadinya G30S saat itu merupakan pusat pelatihan milik Partai Komunis
Indonesia. Saat ini di tempat
tersebut berdiri Lapangan Peringatan Lubang Buaya yang berisi Monumen Pancasila, sebuah museum diorama, sumur tempat para korban
dibuang, serta sebuah ruangan berisi relik.
Nama Lubang Buaya sendiri berasal dari sebuah legenda
yang menyatakan bahwa ada buaya-buaya
putih di sungai yang terletak di dekat kawasan itu. Selain
itu juga terdapat rumah yang di dalamnya ketujuh pahlawan revolusi disiksa dan
dibunuh. Terdapat mobil yang digunakan untuk mengangkut orang-orang.
![]() |
Pengunjung
membayar karcis masuk sebesar Rp.2.500 per orang, baik dewasa maupun anak-anak,
dengan karcis parkir bus Rp. 3.000, mobil sedan Rp. 2.000, sepeda motor Rp.
1.000.
LUBANG
BUAYA
(SUMUR
MAUT)
Monumen ini dibangun di atas lahan seluas 9 Hektar, atas
prakarsa Presiden ke-2 RI, Soeharto. Dibangun untuk mengingat perjuangan
para Pahlawan
Revolusi yang
berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman ideologi komunis.Monumen ini terletak Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Di sebelah selatan terdapat markas
besar Tentara Nasional Indonesia, Cilangkap, sebelah utara adalah Bandar Udara Halim Perdanakusuma, sedangkan sebelah timur adalah Pasar Pondok Gede, dan sebelah barat, Taman Mini Indonesia Indah.Sebelum menjadi sebuah museum sejarah, tempat ini merupakan tanah atau kebun kosong yang dijadikan sebagai tempat
pembuangan terakhir para korban Gerakan 30 September 1965 (G30S).Di kawasan kebun kosong itu
terdapat sebuah lubang sumur tua sedalam 12
meter yang digunakan untuk membuang jenazah para korban G30S. Sumur tua itu berdiameter 75 Cm.
Sumur Tua ini adalah tempat
membuang 7 Pahlawan Revolusi: - Jend. Anumerta Ahmad Yani - Mayjen. Anumerta
Donald Isaaccus Panjaitan - Letjen. Anumerta M.T. Haryono - Kapten CZI Anumerta
Pierre Andreas Tendean - Letjen. Anumerta Siswandon Parman - Letjen. Anumerta
Suprapto - Mayjen. Anumerta Sutoyo Siswomiharjo. Jenazah ke-7 pahlawan itu
ditemukan di sebuah sumur tua yang sekarang dinamai Lubang Buaya , di daerah
Lubang Buaya , dekat lapangan terbang Halim Perdanakusumah, Jakarta. Sedangkan
jenazah Brigjen Katamso Dharmakusumo dan Kol. Sugiyono Mangunwiyoto ditemukan
di Desa Kentungan, Yogyakarta. Selain itu, gugur pula AIP II Brimob Karel
Sasuit Tubun dan Ade Irma Suryani Nasution, putri dari Jend. A.H: Nasution.
![]() |
||
![]() |
||
FASILITAS YANG ADA:
1.
Tempat Ibadah
![]() |
2.
Kantin
Umum
Kantin
Umum
3.
Koperasi
Koperasi
4.
Hydrant
![]() |
5.
CCTV
CCTV
6.
Pemadam Api
![]() |
7.
Tempat
Sampah
Tempat
Sampah
8.
Jembatan
Penguhubung
Jembatan
Penguhubung
9.
Alarm
dan Pendingin Ruangan
Alarm
dan Pendingin Ruangan
10.

Toilet
Umum

Toilet
Umum
11.
Poliklinik
Poliklinik
ISI MUSEUM
1.
RUMAH PENYIKSAAN
Rumah Penyiksaan adalah tempat para Pahlawan Revolusi disiksa untuk menandatangani surat pernyataan untuk mendukung komunisme di Indonesia, mereka disiksa seblum akhirnya dibunuh, ditempat ini ditampilkan diorama penyiksaan
7 pahlawan Revolusi beserta kisah dimulainya Pemberontakan
PKI, dahulu tempat ini
merupakan sebuah sekolah rakyat atau sekarang lebih dikenal SD
dan dialih fungsikan oleh PKI sebagai tempat penyiksaan kejam para Pahlawan Revolusi. 
2. Pos Komando

Tempat ini adalah milik seorang penduduk RW 02 Lubang Buaya bernama Haji
Sueb. Tampat ini dipakai oleh pimpinan G/30S/PKI yaitu Letkol Untung dalam rangka perencanaan Penculikan terhadap 7 Pahlawan Revolusi, di dalamnya masih ada barang-barang asli yang menjadi
saksi bisu kekejaman PKI seperti : 3 buah Petromaks, Mesin
Jahit, dan Lemari Kaca. ![]() |
![]() |
||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
3.
Museum pengkhianatan
pki(komunis)
Museum Pengkhianatan PKI
menceritakan sejarah pemberontakan-pemberontakan PKI yang bertujuan
menggantikan dasar negara Pancasila dengan komunis yang bertentangan dengan
Pancasila, sampai pada pemberontakan kedua yang terkenal dengan nama Gerakan
Tiga Puluh September atau G-30-S/PKI, diawal pintu masuk kita akan disambut
dengan beberapa koleksi foto Pemberontakan
PKI, Pengangkatan
Jenazah 7 Pahlawan revolusi, dan beberapa diorama yang menceritakan tentang Pemberontakan
PKI di berbagai Daerah di Indonesia.
![]() |
![]() |
|||||||||||||
![]() |
||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||
![]() |
![]() |
|||||||||||||
![]() |
![]() |
|||||||||||||
4.
MUSEUM PASEBAN
Museum
Paseban yang terletak di Kompleks
Monumen Pahlawan Revolusi ini diresmikan oleh Presiden Soeharto
pada tanggal 1 Oktober 1981 bertepatan dengan Dwi Wndu Hari Kesaktian Pancasila,
di dalam ruangan ini terdapat beberapa diorama sebagai berikut:
- Rapat-Rapat
Persiapan Pemberontakan (September 1965)
- Latihan sukarelawan di Lubang Buaya (5 Juli-30 September 1965)
- Penculikan Letnan
Jenderal
TNI Ahmad Yani (1 Oktober 1965)
- Penganiayaan di Lubang Buaya (1 Oktober 1965)
- Pengamanan
Lanuma Halim Perdanakusuma (2 Oktober 1965)
- Pengangkatan
Jenazah Pahlawan
Revolusi
(4 Oktober 1965)
- Proses
lahirnya Supersemar (11 Maret 1966)
- Pelantikan Jenderal Soeharto sebagai Presiden (12 Maret 1967)
- Tindak
Lanjut Pelarangan PKI (26 Juni 1982)
Usaha
terhadap Pemerintah RI dan mengganti dasar negara Pancasila telah dua kali dijalankan,
yang pertama pada tahun 1948, dikenal sebagai pemberontakan PKI Muso di Madiun
dan yang kedua ialah pemberontakan G 30 S PKI dalam bulan September 1965.
Selain itu tempat ini juga terdapat Foto ke 7 Pahlawan Revolusi,
yang ukuran foto tersebut sudah diperbesar dari aslinya.
Dan
adanya Ruang Relik
yang merupakan tempat dipamerkannya barang-barang, terutama pakaian
yang mereka kenakan ketika mereka d culik, di siksa, sampai akhirnya di bunuh, berikut dengan hasil visum dari dokter. Selain itu
terdapat pula Aqualungsebuah
alat bantu pernapasan yang digunakan untuk mengangkat jenazah 7 Pahlawan
Revolusi dari dalam sumur tua.
Selain
itu terdapat pula Ruang Teater
yang memutar rekaman bersejarah pengangkatan jenazah Pahlawan
Revolusi, Pemakaman ke Taman Makam Pahlawan Kalibata,
dan lain-lain, masa putar rekaman ini kurang lebih 30 menit.
Dan
terdapat Ruang pameran Foto yang menyajikan foto-foto pengangkatan Jenazah Pahlawan
Revolusi dan pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Berikut
adalah Foro bukti kekejaman PKI :
![]() |
|||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||
![]() |
![]() |
||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||
![]() |
![]() |
||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||
5.Ruangan pakaian dan bekas darah
Museum ini dilengkapi dengan diorama detik-detik peristiwa G 30S. Mulai
dari penculikan para jenderal, penyiksaan di Lubang Buaya, hingga pembubaran
PKI dengan terbitnya Supersemar dan pelantikan Mayjen Soeharto sebagi presiden
RI menggantikan Ir. Soekarno. Jenderal AH Nasution yang juga diincar PKI lolos
dari penculikan, namun putrinya Ade Irma Suryani Nasution gugur. Museum ini
dibangun pada rezim Soeharto. Tidak heran jika disini seolah-olah museum
memposisikan Bung Karno adalah pihak yang salah dan mendudukkan Soeharto
sebagai pahlawan.Berikut ini adalah foto foto yang kami ambil di ruangan ini :
![]() |
|||
![]() |
|||
Pakaian
dan perlengkapan yang dipakai oleh Brigjen Sutojo dan P.A Tendean
Pakaian dari
Mayjen M.T Harjono
Pakaian dari Letkol Sugyono

Pakaian dan
perlengkapan dari Letjen Ahmad Yani
![]() |
Pakaian dan perlengkapan KOL.Katamso
Pakaian dari
Mayjen S. Parman
6.Kesimpulan
Berdasarkan
hasil kunjungan dan observasi kami di Museum Nasional, dapat kami sampaikan sekadar
testimonial dan penyimpulan untuk beberapa hal. Di antaranya, yakni: keberadaan
museum dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai tempat memperdalam wawasan
kehidupan masyarakat masa lampau dan berguna juga sebagai sarana rekreasi
melepas penat dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Jika kita melihat sekilas
manfaat dari museum tadi, namun masih terbilang sedikit dari kebanyakan
masyarakat yang benar-benar berminat untuk mengunjungi museum. Hal ini terlihat
ketika kami mengunjungi Museum Nasional pada tanggal 16 Desember 2014, sekitar
pukul 09.00 -
11.00
WIB, beberapa pengunjung museum kebanyakan adalah orang-orang tua dan rombongan
siswa dari beberapa sekolah. Sedangkan anak remaja terlihat tidak begitu banyak
dibanding kelompok sebelumnya (kecuali bagi mereka yang mendapat tugas dari
sekolah atau kampusnya). Padahal fasilitas-fasilitas dalam museum cukup
mumpuni, meski tidak semuanya.
Banayak
bukti-bukti sejarah yang menceritakan kekejaman PKI di museum ini yang terawatt
dengan sangat baik.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar