Jumat, 05 Mei 2017

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
MUSEUM PANCASILA SAKTI (LUBANG BUAYA)






Disusun Oleh
1.      Adinda Martha (20416175)
2.      Boby Wiliam (21416458)
3.      Grafiky Desriyanto (23416090)
4.      M Alvin R B (24416708)
5.      Rony Fajar Setiawan (26416678)
6.      Rizky Setyawati Putri (2D414216)
7.      Wiratama Pratikta (2C414292)


JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2017

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas Makalah Ilmu Budaya Dasar yang merupakan hasil dari kunjungan ke Museum Pancasila Sakti (Lubang Buaya).
Makalah ini disusun untuk menjelaskan sejarah berdirinya Museum dan fasilitas yang ada.
Makalah ini dapat terselesaikan tidak lepas karena bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang dengan tulus dan sabar memberikan sumbangan baik berupa ide, materi pembahasan dan juga bantuan lainnya yang tidak dapat dijelaskan satu persatu.
Diharapkan dengan hadirnya makalah ini dapat memberikan gambaran tentang Museum Pancasila Sakti (Lubang Buaya).
Akhirnya penyusun menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penyusun mohon para pembaca dan pembimbing berkenan memberikan saran atau kritik demi perbaikan makalah berikutnya.
Semoga karya ini dapat memberikan suatu manfaat bagi pembaca dan semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini.





Depok,    April 2017



    Penyusun



IMG_20170416_132708.jpgMONUMEN PANCASILA SAKTI






            Lubang Buaya adalah sebuah tempat di kawasan Pondok Gede, Jakarta yang menjadi tempat pembuangan para korban Gerakan 30 September pada 30 September 1965. Secara spesifik, sumur Lubang Buaya terletak di Kelurahan Lubang Buaya di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Lubang Buaya pada terjadinya G30S saat itu merupakan pusat pelatihan milik Partai Komunis Indonesia. Saat ini di tempat tersebut berdiri Lapangan Peringatan Lubang Buaya yang berisi Monumen Pancasila, sebuah museum diorama, sumur tempat para korban dibuang, serta sebuah ruangan berisi relik.
Nama Lubang Buaya sendiri berasal dari sebuah legenda yang menyatakan bahwa ada buaya-buaya putih di sungai yang terletak di dekat kawasan itu. Selain itu juga terdapat rumah yang di dalamnya ketujuh pahlawan revolusi disiksa dan dibunuh. Terdapat mobil yang digunakan untuk mengangkut orang-orang.
IMG_20170416_135735.jpg
 












IMG_20170416_135438.jpgPengunjung membayar karcis masuk sebesar Rp.2.500 per orang, baik dewasa maupun anak-anak, dengan karcis parkir bus Rp. 3.000, mobil sedan Rp. 2.000, sepeda motor Rp. 1.000.









IMG_20170416_140514.jpg 







                                                                                                                                          

LUBANG BUAYA
(SUMUR MAUT)
Monumen ini dibangun di atas lahan seluas 9 Hektar, atas prakarsa Presiden ke-2 RI, Soeharto. Dibangun untuk mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman ideologi komunis.Monumen ini terletak Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Di sebelah selatan terdapat markas besar Tentara Nasional Indonesia, Cilangkap, sebelah utara adalah Bandar Udara Halim Perdanakusuma, sedangkan sebelah timur adalah Pasar Pondok Gede, dan sebelah barat, Taman Mini Indonesia Indah.Sebelum menjadi sebuah museum sejarah, tempat ini merupakan tanah atau kebun kosong yang dijadikan sebagai tempat pembuangan terakhir para korban Gerakan 30 September 1965 (G30S).Di kawasan kebun kosong itu terdapat sebuah lubang sumur tua sedalam 12 meter yang digunakan untuk membuang jenazah para korban G30S. Sumur tua itu berdiameter 75 Cm.
Sumur Tua ini adalah tempat membuang 7 Pahlawan Revolusi: - Jend. Anumerta Ahmad Yani - Mayjen. Anumerta Donald Isaaccus Panjaitan - Letjen. Anumerta M.T. Haryono - Kapten CZI Anumerta Pierre Andreas Tendean - Letjen. Anumerta Siswandon Parman - Letjen. Anumerta Suprapto - Mayjen. Anumerta Sutoyo Siswomiharjo. Jenazah ke-7 pahlawan itu ditemukan di sebuah sumur tua yang sekarang dinamai Lubang Buaya , di daerah Lubang Buaya , dekat lapangan terbang Halim Perdanakusumah, Jakarta. Sedangkan jenazah Brigjen Katamso Dharmakusumo dan Kol. Sugiyono Mangunwiyoto ditemukan di Desa Kentungan, Yogyakarta. Selain itu, gugur pula AIP II Brimob Karel Sasuit Tubun dan Ade Irma Suryani Nasution, putri dari Jend. A.H: Nasution.
IMG_20170416_140800.jpg
IMG_20170416_140549.jpg
 



















FASILITAS YANG ADA:
1.      Tempat Ibadah
IMG_20170416_135505.jpg
 









2.       IMG_20170416_135547.jpgKantin Umum







                                                                                                                                                             
3.       IMG_20170416_141815.jpgKoperasi









4.       Hydrant
IMG_20170416_142747.jpg
 






                                                                                                                                                                              


5.       IMG_20170416_143007.jpgCCTV




                                                                                                                                                  


6.       Pemadam Api
IMG_20170416_142544.jpg
 







                                                                                                                                                                

7.       IMG_20170416_143014.jpgTempat Sampah








                                                                                                                                                         
8.       IMG_20170416_143957.jpgJembatan Penguhubung








                                                                                                                                                                                             





9.       IMG_20170416_144145.jpgAlarm dan Pendingin Ruangan





                                                                                                                                                        





10.   IMG_20170416_145621.jpgIMG_20170416_145614.jpgToilet Umum










                                                                                                                                          

11.   IMG_20170416_150602.jpgPoliklinik









                                                                                                                                                                                  














ISI MUSEUM

1.     RUMAH PENYIKSAAN
IMG_20170416_140422.jpg              Rumah Penyiksaan adalah tempat para Pahlawan Revolusi disiksa untuk menandatangani surat pernyataan untuk mendukung komunisme di Indonesia, mereka disiksa seblum akhirnya dibunuh, ditempat ini ditampilkan diorama penyiksaan 7 pahlawan Revolusi beserta kisah dimulainya Pemberontakan PKI, dahulu tempat ini merupakan sebuah sekolah rakyat atau sekarang lebih dikenal SD dan dialih fungsikan oleh PKI sebagai tempat penyiksaan kejam para Pahlawan Revolusi.
IMG_20170416_140331.jpgIMG_20170416_140359.jpg 










2.     Pos Komando
IMG_20170416_141250.jpgIMG_20170416_141022.jpg              Tempat ini adalah milik seorang penduduk RW 02 Lubang Buaya bernama Haji Sueb. Tampat ini dipakai oleh pimpinan G/30S/PKI yaitu Letkol Untung dalam rangka perencanaan Penculikan terhadap 7 Pahlawan Revolusi, di dalamnya masih ada barang-barang asli yang menjadi saksi bisu kekejaman PKI seperti : 3 buah Petromaks, Mesin Jahit, dan Lemari Kaca.
IMG_20170416_141102.jpg IMG_20170416_141112.jpg
IMG_20170416_141041.jpg
IMG_20170416_141127.jpg
IMG_20170416_141916.jpg
 

















3.     Museum pengkhianatan pki(komunis)
Museum Pengkhianatan PKI menceritakan sejarah pemberontakan-pemberontakan PKI yang bertujuan menggantikan dasar negara Pancasila dengan komunis yang bertentangan dengan Pancasila, sampai pada pemberontakan kedua yang terkenal dengan nama Gerakan Tiga Puluh September atau G-30-S/PKI, diawal pintu masuk kita akan disambut dengan beberapa koleksi foto Pemberontakan PKI, Pengangkatan Jenazah 7 Pahlawan revolusi, dan beberapa diorama yang menceritakan tentang Pemberontakan PKI di berbagai Daerah di Indonesia.
IMG_20170416_141929.jpg IMG_20170416_141952.jpg
IMG_20170416_142107.jpg,IMG_20170416_142017.jpg
IMG_20170416_142137.jpg,IMG_20170416_142041.jpg
IMG_20170416_142155.jpg IMG_20170416_142231.jpg
IMG_20170416_142402.jpg IMG_20170416_142442.jpg
 


























4.     MUSEUM PASEBAN
Museum Paseban yang terletak di Kompleks Monumen Pahlawan Revolusi ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Oktober 1981 bertepatan dengan Dwi Wndu Hari Kesaktian Pancasila, di dalam ruangan ini terdapat beberapa diorama sebagai berikut:
Usaha terhadap Pemerintah RI dan mengganti dasar negara Pancasila telah dua kali dijalankan, yang pertama pada tahun 1948, dikenal sebagai pemberontakan PKI Muso di Madiun dan yang kedua ialah pemberontakan G 30 S PKI dalam bulan September 1965. Selain itu tempat ini juga terdapat Foto ke 7 Pahlawan Revolusi, yang ukuran foto tersebut sudah diperbesar dari aslinya.
Dan adanya Ruang Relik yang merupakan tempat dipamerkannya barang-barang, terutama pakaian yang mereka kenakan ketika mereka d culik, di siksa, sampai akhirnya di bunuh, berikut dengan hasil visum dari dokter. Selain itu terdapat pula Aqualungsebuah alat bantu pernapasan yang digunakan untuk mengangkat jenazah 7 Pahlawan Revolusi dari dalam sumur tua.
Selain itu terdapat pula Ruang Teater yang memutar rekaman bersejarah pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi, Pemakaman ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, dan lain-lain, masa putar rekaman ini kurang lebih 30 menit.
Dan terdapat Ruang pameran Foto yang menyajikan foto-foto pengangkatan Jenazah Pahlawan Revolusi dan pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Berikut adalah Foro bukti kekejaman PKI :






IMG_20170416_144044.jpg
IMG_20170416_145238.jpg
IMG_20170416_144657.jpg
IMG_20170416_144731.jpg
IMG_20170416_144200.jpg,IMG_20170416_145144.jpg
IMG_20170416_144321.jpg,IMG_20170416_144908.jpg
IMG_20170416_144219.jpg IMG_20170416_144827.jpg
IMG_20170416_144808.jpg,IMG_20170416_145112.jpg,IMG_20170416_145217.jpg
IMG_20170416_145329.jpg IMG_20170416_145033.jpg
IMG_20170416_144508.jpg
 























































5.Ruangan pakaian dan bekas darah


Museum ini dilengkapi dengan diorama detik-detik peristiwa G 30S. Mulai dari penculikan para jenderal, penyiksaan di Lubang Buaya, hingga pembubaran PKI dengan terbitnya Supersemar dan pelantikan Mayjen Soeharto sebagi presiden RI menggantikan Ir. Soekarno. Jenderal AH Nasution yang juga diincar PKI lolos dari penculikan, namun putrinya Ade Irma Suryani Nasution gugur. Museum ini dibangun pada rezim Soeharto. Tidak heran jika disini seolah-olah museum memposisikan Bung Karno adalah pihak yang salah dan mendudukkan Soeharto sebagai pahlawan.Berikut ini adalah foto foto yang kami ambil di ruangan ini :
IMG_20170416_145759.jpg
IMG_20170416_145737.jpg
 










            Pakaian dan perlengkapan yang dipakai oleh Brigjen Sutojo dan P.A Tendean
IMG_20170416_150300.jpg 





                                                                  




Pakaian dari Mayjen M.T Harjono
IMG_20170416_150019.jpg 












Pakaian dari Letkol Sugyono
                                             IMG_20170416_150355.jpg


Pakaian dan perlengkapan dari Letjen Ahmad Yani





IMG_20170416_150031.jpg
 







Pakaian dan perlengkapan KOL.Katamso




                                                                                                                                 
IMG_20170416_150327.jpg 













Pakaian dari Mayjen S. Parman









6.Kesimpulan

Berdasarkan hasil kunjungan dan observasi kami di Museum Nasional, dapat kami sampaikan sekadar testimonial dan penyimpulan untuk beberapa hal. Di antaranya, yakni: keberadaan museum dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai tempat memperdalam wawasan kehidupan masyarakat masa lampau dan berguna juga sebagai sarana rekreasi melepas penat dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Jika kita melihat sekilas manfaat dari museum tadi, namun masih terbilang sedikit dari kebanyakan masyarakat yang benar-benar berminat untuk mengunjungi museum. Hal ini terlihat ketika kami mengunjungi Museum Nasional pada tanggal 16 Desember 2014, sekitar pukul 09.00 -
 11.00 WIB, beberapa pengunjung museum kebanyakan adalah orang-orang tua dan rombongan siswa dari beberapa sekolah. Sedangkan anak remaja terlihat tidak begitu banyak dibanding kelompok sebelumnya (kecuali bagi mereka yang mendapat tugas dari sekolah atau kampusnya). Padahal fasilitas-fasilitas dalam museum cukup mumpuni, meski tidak semuanya.
Banayak bukti-bukti sejarah yang menceritakan kekejaman PKI di museum ini yang terawatt dengan sangat baik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar