TUGAS
PERTEMUAN 4 ILMU SOSIAL DASAR
Membuat artikel mengenai :
1.
Ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan teknologi dan kemiskinan
Jawab :

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan yang
Masa Esa karena hanya atas berkat dan rahmatNya sajalah saya bisa menyelesaikan
makalah Ilmu Sosial Dasar ini.
Dalam makalah kali ini, saya akan
menjelaskan tentang Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Kemiskinan. Bagaimana
kaitan antara Ilmu Pengetahuan, teknologi dan juga kemiskinan, karena semakin
berembangnya zaman, semakin banyak ilmu dan teknologi yang berkembang yang
tentunya mempengaruhi masyarakat yang ada dalam suatu wilayah tertentu. Di saat
IPTEK berkembang, kebanyakan masyarakat akan berusaha mempelajarinya karena
rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Tetapi tidak semua individu dapat mengikuti
perkembangannya. Dan faktor yang paling besar adalah faktor ekonomi, yang berhubungan
dengan kemiskinan.
Demikian sepatah dua patah kata yang
dapat saya sampaikan. Kritik dan saran saudara sangat membantu demi
menyempurnakan makalah ini. Mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih.
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemiskinan sering sekali dikaitkan
dengan ilmu pengetahuan. Banyak orang yang menilai bahwa orang yang miskin itu
berarti orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang kurang sehingga mereka tidak
mampu untuk mencapai penghasilan yang banyak, atau bahkan ereka cenderung malas
untuk bekerja.
Hal ini juga berkaitan dengan
kebijakan-kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak orang yang terus menerus
menggali ilmu utuk dapat menciptakan sesuatu yang baru dan mempermudah
pekerjaan individu atau kelompok. Tetapi tanpa sadar memiliki dampak negatif
bagi kalangan masyarakat tertentu. Sehingga menyebabkan perekonomian yang tidak
merata.
B. Maksud dan Tujuan Penulisan
Maksud dan tujuan dari penulisan
makalah kali ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah softskill Ilmu Sosial
Dasar tentang Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Masyarakat, memberikan informasi
dan menjelaskan pengertian ilmu pengetahuan, teknologi, dan juga masyarakat.
C. Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan ilmu
pengetahuan ?
Apa yang dimaksud dengan teknologi ?
Apa yang dimaksud dengan kemiskinan
?
Apa kaitan antara ilmu pengetahuan,
teknologi dan kemiskinan ?
BAB
II
PEMBAHASAN
2. 1 Ilmu Pengetahuan
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah
seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman
manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.
Segi-segi ini dibatasi agar
dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan
membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari
keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan
(knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori
yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode
yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
Jika dipandang dari sudut filsafat,
ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan
yang dimilikinya.
Secara umum, Ilmu pengetahuan
merupakan suatu pangkal tumpuan (objek) yang sistematis, mentoris,
rasional/logis, empiris, umum dan akumulatif.
Jadi ilmu pengetahuan adalah sebuah
dasar atau bekal bagi seseorang yang ingin mencapai suatu tujuan yang diharapkannya.
Tanpa ilmu pengetahuan, manusia tidak bisa mencapai apa yang diinginkannya.
Ilmu pengetahuan memberikan setiap
manusia ilmu-ilmu dasar untuk melakukan sesuatu. Ilmu pengetahuan bisa dicari
dimana saja, tidak hanya dari buku pelajaran saja. Tetapi ilmu pengetahuan juga
bisa diambil dari berbagai sumber seperti koran, majalah, televisi, radio,
komik sains, ataupun pengalaman seseorang bahkan dari kitab suci.
Syarat-syarat ilmu pengetahuan
Objektif. Ilmu harus memiliki objek
kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya,
tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau
mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang
dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga
disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau
subjek penunjang penelitian.
Metodis adalah upaya-upaya yang
dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam
mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin
kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti:
cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan
umumnya merujuk pada metode ilmiah.
Sistematis. Dalam perjalanannya
mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan
terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu
sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan
rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara
sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
Universal. Kebenaran yang hendak
dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu).
Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu
yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an
(universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya
adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam
ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
2. 2 Teknologi
Pengertian Teknologi berasal dari
kata Bahasa Perancis yaitu “La Teknique“ yang dapat diartikan dengan ”Semua
proses yang dilaksanakan dalam upaya untuk mewujudkan sesuatu secara rasional”.
Teknologi dalam arti ini dapat
diketahui melalui barang-barang, benda-benda, atau alat-alat yang berhasil
dibuat oleh manusia untuk memudahkan dan menggampangkan realisasi hidupnya di
dalam dunia. Hal mana juga memperlihatkan tentang wujud dari karya cipta dan
karya seni (Yunani : “techne“) manusia selaku homo technicus. Dari sini
muncullah istilah “teknologi”, yang berarti ilmu yang mempelajari tentang
“techne” manusia. Tetapi pemahaman seperti itu baru memperlihatkan satu segi
saja dari kandungan kata “teknologi”. Teknologi sebenarnya lebih dari sekedar
penciptaan barang, benda atau alat dari manusia selaku homo technicus atau homo
faber. Teknologi bahkan telah menjadi suatu sistem atau struktur dalam
eksistensi manusia di dalam dunia. Teknologi bukan lagi sekedar sebagai suatu
hasil dari daya cipta yang ada dalam kemampuan dan keunggulan manusia, tetapi
ia bahkan telah menjadi suatu “daya pencipta” yang berdiri di luar kemampuan
manusia, yang pada gilirannya kemudian membentuk dan menciptakan suatu
komunitas manusia yang lain.
Teknologi merupakan “aplikasi ilmu”
dan engineering untuk mengembangkan mesin dan prosedur agar memperluas dan
memperbaiki kondisi manusia atau paling tidak memperbaiki efisiensi manusia
pada beberapa aspek.
2. 3 Kemiskinan
Kemiskinan dipahami dalam berbagai
cara. Pemahaman utamanya mencakup:
Gambaran kekurangan materi, yang
biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan
pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi
kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
Gambaran tentang kebutuhan sosial,
termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk
berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi.
Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup
masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
Gambaran tentang kurangnya
penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” di sini sangat
berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
Penyebab Kemiskinan :
penyebab individual, atau patologis,
yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan
dari si miskin;
penyebab keluarga, yang
menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
penyebab sub-budaya (subcultural),
yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau
dijalankan dalam lingkungan sekitar;
penyebab agensi, yang melihat
kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah,
dan ekonomi;
penyebab struktural, yang memberikan
alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
Meskipun
diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari
kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di dunia)
misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin;
yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal
melewati atas garis kemiskinan.
2. 4 Hubungan antara Ilmu
Pengetahuan, Teknologi, dan Kemiskinan
Ilmu pengetahuan dan teknologi
merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam peranannya untuk memenuhi
kebutuhan insani. Ilmu pengetahuan digunakan untuk mengetahui “apa” sedangkan
teknologi mengetahui “bagaimana”. Ilmu pengetahuan sebagai suatu badan
pengetahuan sedangkan teknologi sebagai seni yang berhubungan dengan proses
produksi, berkaitan dalam suatu sistem yang saling berinteraksi. Teknologi
merupakan penerapan ilmu pengetahuan, sementara teknologi mengandung ilmu
pengetahuan di dalamnya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
penerapannya, keduanya menghasilkan suatu kehidupan di dunia (satu dunia), yang
diantaranya membawa malapetaka yang belum pernah dibayangkan. Oleh karena itu,
ketika manusia sudah mampu membedakan ilmu pengetahuan (kebenaran) dengan etika
(kebaikan), maka kita tidak dapat netral dan bersikap netral terhadap
penyelidikan ilmiah. Sehingga dalam penerapan atau mengambil keputusan terhadap
sikap ilmiah dan teknologi, terlebih dahulu mendapat pertimbangan moral dan
ajaran agama.
Ilmu pengetahuan dan teknologi
merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat
dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain
dalam kerangka nasional seperti kemiskinan.
Dalam hal kemiskinan struktural,
ternyata adalah buatan manusia terhadap manusia lainnya yang timbul dari akibat
dan dari struktur politik, ekonomi, teknologi dan sosial buatan manusia pula. Perubahan
teknologi yang cepat mengakibatkan kemiskinan, karena mengakibatkan terjadinya
perubahan sosial yang fundamental. Sebab kemiskinan diantaranya disebabkan oleh
struktur ekonomi, dalam hal ini pola relasi antara manusia dengan sumber
kemakmuran, hasil produksi dan mekanisme pasar. Semuanya merupakan sub sistem
atau sub struktur dari sistem kemasyarakatan. Termasuk di dalamnya ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Rata-rata orang yang hidup di bawah
garis kemiskinan belum dapat membaca maupun menulis. sedangkan salah satu cara
memberantas kemiskinan adalah dengan ilmu pengetahuan. Dengan dapat membaca dan
menulis, seorang pemulung sampah bisa berkesempatan mendapatkan pekerjaan yang
lebih layak dan menghasilkan banyak uang. Dengan ilmu pengetahuan, dapat
merubah seorang pengamen untuk berpikir kreatif dan memulai membuka suatu usaha
dengan memanfaatkan teknologi yang ada.
2. 5 Studi Kasus
Seorang anak dari kalangan menengah
kebawah menyelesaikan study dengan gelar ahli dalam medis (kedokteran). Semua tak
lepas dari dorongan spiritual dan material orang tua yang jerih payah untuk
mewujudkan impian sang anak. Jelas bahwa ilmu penngetahuan yang dulu pernah di
gapai semasa sekolah menghantarkan dia kini mejadi seorang yang begitu sibuk
dengan tanggungjawabnya kepada para pasiennya. Keahliannya yang didukung dengan
berbagai alat medis sangatlah berguna untuk medukung alat dalam pekerjaannya,
dari sebuah alat teknologi seperti stetoscop dll. Saking sibuknya dia tidak
peduli akan kondisi keluarganya sendiri di rumah terutama orang tuanya yang
semakin bertambah usia dan beberapa penyakit menggerogoti orang tua itu. Dengan
keterbatasan yang ada, orang tuanya yang lebih memilih untuk meminum
obat-obatan yang di warung dengan alasan harga yang terjangkau, dan tanpa memperdulikan
bahwa anaknya adalah seorang ahli kesehatan.
Melihat dari kasus tersebut terlihat
bahwa ilmu pengetahuan dan alat teknologi belum seutuhnya dapat mengubah
kemiskinan. Mungkin itu adalah sebagian contoh sederhana yang dapat kita temui
di berbagai kalangan.
Kemiskinan menjadi suatu kebudayaan
(culture of proverty) atau suatu subkultur yang mempunyai struktur dan way of
life yang telah menjadi turun – temurun melalui jalur keluarga. Kemiskinan
(yang membudayakan) itu disebabkan oleh dan selama proses perubahan sosial
secara fundamental, seperti transisi dari feodalisme ke kapitalisme, perubahan
teknologi yang cepat, kolonialisme, dsb. Obatnya tidak lain adalah revolusi
yang sama dan meluasnya.
Kemiskinan di antaranya di sebabkan
oleh struktur ekonomi, maka terlebih dahulu perlu memahami inti pokok dari
suatu subjek dan objek, dan antara subjek – subjek komponen-komponen yang
merupakan bagian dan suatu sistem. Maka permasalahan struktur yang penting
dalam hal ini adalah pola relasi. Ini mencakup masalah kondisi dan posisi
komponen (subjek-subjek) dari struktur yang bersangkutan dalam keseluruhan tata
susunan atau sistem dan fungsi dari subjek atau komponen tersebut dalam
keseluruhan fungsi dan sistem.
BAB
III
PENUTUP
3. 1 Kesimpulan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
sangat erat kaitannya dengan kemiskinan. Terutama dalam perkembangannya yang
semakin pesat dari tahun ke tahun. Masyarakat mau tidak mau harus mengikuti
perkembangan yang ada demi kemudahannya dalam beraktifitas, tetapi faktor
penybaran perekonomian yang tidak merata menyababkan hal-hal yang ingin dicapai
tidak dapat berjalan dengan maksimal.
3. 2 Pendapat
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi sangat cepat dewasa ini. Banyak sekali penemuan-penemuan baru yang
telah dirilis untuk mempermudah suatu pekerjaan. Begitu banyak orang yang terus
menggali ilmunya untuk menciptakan sesuatu. Tetapi di lain sisi masih banyak
orang bahkan tidak bisa membaca. Padahal sumber daya manusia yang dapat
membantu mereka yang kurang beruntung tersedia sudah semakin banyak. Tetapi
banyak dari mereka yang tidak peduli dan fokus terhadap dirinya sendiri.
Pemerintah juga kurang memberi kebijakan yang berarti yang baik bagi masyarakat
modern maupun masyarakat tidak modern dengan kemiskinan yang dialaminya.
BAB
IV
DAFTAR
PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/bab8-ilmu_pengetahuan_teknologi_dan_kemiskinan.pdf
2.
Kerukunan antar
umat beragama
Jawab :
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik AllahSWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun
mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam. Agama
sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui
berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah berkembang selama empat
belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu
menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan maupun realitas sosial, politik,
ekonomi dan budaya.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
kerukunan antar umat beragama, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari
berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh
penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas
dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa
Universitas Negeri Makassar. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya
meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah saya di masa yang akan
datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Jakarta , 9 januari 2017
Rony fajar setiawan
KERUKUNAN
ANTAR UMAT BERAGAMA
1. Agama Islam Merupakan Rahmat Bagi
Seluruh Alam
A. Makna Agama Islam
Kata islam berarti damai, selamat, sejahtera, penyerahan
diri, taat dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama islam adalah
agama yang mengandung ajaran yang mencitakan kedamaian, keselamatan dan
kesejahteraan kehidupan umat manusia pada khususnya, dan semua mahluk Allah
pada umumnya.
B. Kerahmatan Islam Bagi Seluruh
Alam
Salah satu bentuk kerahmatan Allah pada ajaran islam adalah
:
Islam menghargai dan menghormati manusia sebagai hamba
Allah, baik mereka muslim maupun non muslim.
Islam memberikan kebebasan pada manusia untuk menggunakan
potensi yang diberikan oleh ALLAH secara bertanggung jawab.
2. Kebersamaan Umat Beragama Dalam
Kehidupan Sosial.
A. Pandangan Agama Islam Terhadap
Umat Non Islam
Dari segi akidah, setiap orang yang tidak mau menerima islam
sebagi agamanya disebut kafir atau non islam. Mereka yang terdiri dari
orang-orang musrik yang menyembah berhala di sebut orang watsani. Orang kafir
yang mengganggu, menyakiti dan memusuhi orang Islam di sebut kafir harbi, dan
orang kafir yang hidup rukun dengan orang Islam disebut kafir dzimmi. Kafir
harbi adalah orang kafir yang memerangi orang Islam dan boleh diperangi oleh
orang Islam. Kafir dzimmi adalah orang kafir yang mengikat perjanjian atau yang
menjadi tanggungan orang Islam untuk menjaga keselamatan atau keamanannya.
B. Tanggung Jawab Sosial Umat Islam
Bentuk tanggung jawab sosial ummat islam meliputi berbagai
aspek kehidupan di antaranya adalah :
1. Menjalin silaturahmi dengan tetangga,
2. Memberi bantuan kepada masyarakat bila ada yang memerlukan bantuan,
1. Menjalin silaturahmi dengan tetangga,
2. Memberi bantuan kepada masyarakat bila ada yang memerlukan bantuan,
C. Amar Ma’ruf Dan Nahi Mungkar
Amar ma’ruf dan nahi mungkar artinya memerintahkan orang
lain untuk berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat. Bentuk amar ma’ruf dan
nahi munkar yang bersistem diantaranya adalah: Mendirikkan mesjid, Menyelenggarkan
pengajian, dll.
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat Kerukunan Antar Umat Beragama
BAB II PEMBAHASAN
A. Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia
B. Kendala-Kendala
C. Solusi
D. Agama Islam Merupakan Rahmat Bagi Seluruh Alam
E. Ukhuwah Islamiyah Dan Ukhuwah Insaniyah
F. Kebersamaan Ummat Beragama Dalam Kehidupan Sosial
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat Kerukunan Antar Umat Beragama
BAB II PEMBAHASAN
A. Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia
B. Kendala-Kendala
C. Solusi
D. Agama Islam Merupakan Rahmat Bagi Seluruh Alam
E. Ukhuwah Islamiyah Dan Ukhuwah Insaniyah
F. Kebersamaan Ummat Beragama Dalam Kehidupan Sosial
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kerukunan beragama di tengah keanekaragaman budaya merupakan
aset dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dalam perjalanan
sejarah bangsa, Pancasila telah teruji sebagai alternatif yang paling tepat
untuk mempersatukan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk di bawah suatu
tatanan yang inklusif dan demokratis. Sayangnya wacana mengenai Pancasila
seolah lenyap seiring dengan berlangsungnya reformasi.
Berbagai macam kendala yang sering kita hadapi dalam
mensukseskan kerukunan antar umat beragama, dari luar maupun dalam negeri kita
sendiri. Namun dengan kendala tersebut warga Indonesia selalu optimis, bahwa
dengan banyaknya agama yang ada di Indonesia, maka banyak pula solusi untuk
menghadapi kendala-kendala tersebut. Dari berbagai pihak telah sepakat untuk
mencapai tujuan kerukunan antar umat beragama di Indonesia seperti masyarakat
dari berbagai golongan, pemerintah, dan organisasi-organisasi agama yang banyak
berperan aktif dalam masyarakat.
Keharmonisan dalam komunikasi antar sesama penganut agama
adalah tujuan dari kerukunan beragama, agar terciptakan masyarakat yang bebas
dari ancaman, kekerasan hingga konflik agama.
B. Rumusan Masalah
a) Kendala apa yang menjadi permasalahan dalam mencapai
kerukunan umat beragama di Indonesia?
b) Bagaimana masyarakat menghadapi permasalahan/kendala
dalam mencapai kerukunan antar umat beragama di Indonesia?
c) Apakah Agama Islam Merupakan
Rahmat Bagi Seluruh Alam?
d) Bagaimana Kebersamaan Umat
Beragama Dalam Kehidupan Sosial?
C. Tujuan
Penulisan makalah ini bermaksud untuk memenuhi tugas mata
kuliah Agama kami dan untuk menambah wawasan para pembaca tentang kerukunan
antar umat beragama serta permasalahan yang di hadapi. Semoga Bermanfaat.
D. Manfaat Kerukunan Antar Umat
Beragama
Umat Beragama Diharapkan Perkuat
Kerukunan Jika agama dapat dikembangkan sebagai faktor pemersatu maka ia akan
memberikan stabilitas dan kemajuan Negara.
Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni berharap dialog
antar-umat beragama dapat memperkuat kerukunan beragama dan menjadikan agama
sebagai faktor pemersatu dalam kehidupan berbangsa.
"Sebab jika agama dapat dikembangkan sebagai faktor
pemersatu maka ia akan memberikan sumbangan bagi stabilitas dan kemajuan suatu
negara," katanya dalam Pertemuan Besar Umat Beragama Indonesia untuk
Mengantar NKRI di Jakarta, Rabu.
Pada pertemuan yang dihadiri tokoh-tokoh agama Islam,
Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu itu Maftuh menjelaskan, kerukunan
umat beragama di Indonesia pada dasarnya telah mengalami banyak kemajuan dalam
beberapa dekade terakhir namun beberapa persoalan, baik yang bersifat internal
maupun antar-umat beragama, hingga kini masih sering muncul.
Menurut dia, kondisi yang demikian menunjukkan bahwa
kerukunan umat beragama tidak bersifat imun melainkan terkait dan terpengaruh
dinamika sosial yang terus berkembang. "Karena itu upaya memelihara
kerukunan harus dilakukan secara komprehensif, terus-menerus, tidak boleh
berhenti," katanya.
Dalam hal ini, Maftuh menjelaskan, tokoh dan umat beragama
dapat memberikan kontribusi dengan berdialog secara jujur, berkolaborasi dan
bersinergi untuk menggalang kekuatan bersama guna mengatasi berbagai masalah
sosial termasuk kemiskinan dan kebodohan. Ia juga mengutip perspektif pemikiran
Pendeta Viktor Tanja yang menyatakan bahwa misi agama atau dakwah yang kini
harus digalakkan adalah misi dengan tujuan meningkatkan sumber daya insani
bangsa, baik secara ilmu maupun karakter. "Hal itu kemudian perlu
dijadikan sebagai titik temu agenda bersama lintas agama," katanya.
Mengelola kemajemukan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH
Ma'ruf Amin mengatakan masyarakat Indonesia memang majemuk dan kemajemukan itu
bisa menjadi ancaman serius bagi integrasi bangsa jika tidak dikelola secara
baik dan benar.
"Kemajemukan adalah realita yang tak dapat dihindari
namun itu bukan untuk dihapuskan. Supaya bisa menjadi pemersatu, kemajemukan
harus dikelola dengan baik dan benar," katanya. Ia menambahkan, untuk
mengelola kemajemukan secara baik dan benar diperlukan dialog berkejujuran guna
mengurai permasalahan yang selama ini mengganjal di masing-masing kelompok
masyarakat.
"Karena mungkin masalah yang selama ini terjadi di
antara pemeluk agama terjadi karena tidak sampainya informasi yang benar dari
satu pihak ke pihak lain. Terputusnya jalinan informasi antar pemeluk agama
dapat menimbulkan prasangka- prasangka yang mengarah pada terbentuknya
penilaian negatif," katanya.
Senada dengan Ma'ruf, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia
Mgr.M.D Situmorang, OFM. Cap mengatakan dialog berkejujuran antar umat beragama
merupakan salah satu cara untuk membangun persaudaraan antar- umat beragama.
Menurut dia, tema dialog antar-umat beragama sebaiknya bukan
mengarah pada masalah theologis, ritus dan cara peribadatan setiap agama
melainkan lebih ke masalah- masalah kemanusiaan. "Dalam hal kebangsaan,
sebaiknya dialog difokuskan ke moralitas, etika dan nilai spiritual,"
katanya. Ia juga menambahkan, supaya efektif dialog antar-umat beragama mesti
"sepi" dari latar belakang agama yang eksklusif dan kehendak untuk
mendominasi pihak lain. "Sebab untuk itu butuh relasi harmonis tanpa
apriori, ketakutan dan penilaian yang dimutlakkan. Yang harus dibangun adalah
persaudaraan yang saling menghargai tanpa kehendak untuk mendominasi dan
eksklusif," katanya.
Menurut Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Budi S
Tanuwibowo, agenda agama-agama ke depan sebaiknya difokuskan untuk menjawab
tiga persoalan besar yang selama ini menjadi pangkal masalah internal dan
eksternal umat beragama yakni rasa saling percaya, kesejahteraan bersama dan
penciptaan rasa aman bagi masyarakat. "Energi dan militansi agama
seyogyanya diarahkan untuk mewujudkan tiga hal mulia itu," demikian Budi S
Tanuwibowo.
BAB
II
PEMBAHASAN
KERUKUNAN
ANTAR UMAT BERAGAMA
A. Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia
Kerukunan merupakan kebutuhan bersama yang tidak dapat
dihindarkan di Tengah perbedaan. Perbedaan yang ada bukan merupakan penghalang
untuk hidup rukun dan berdampingan dalam bingkai persaudaraan dan persatuan.
Kesadaran akan kerukunan hidup umat beragama yang harus bersifat Dinamis,
Humanis dan Demokratis, agar dapat ditransformasikan kepada masyarakat
dikalangan bawah sehingga, kerukunan tersebut tidak hanya dapat
dirasakan/dinikmati oleh kalangan-kalangan atas/orang kaya saja. Karena, Agama
tidak bisa dengan dirinya sendiri dan dianggap dapat memecahkan semua masalah.
Agama hanya salah satu faktor dari kehidupan manusia.
Mungkin faktor yang paling penting dan mendasar karena
memberikan sebuah arti dan tujuan hidup. Tetapi sekarang kita mengetahui bahwa
untuk mengerti lebih dalam tentang agama perlu segi-segi lainnya, termasuk ilmu
pengetahuan dan juga filsafat. Yang paling mungkin adalah mendapatkan
pengertian yang mendasar dari agama-agama. Jadi, keterbukaan satu agama terhadap
agama lain sangat penting.
Kalau kita masih mempunyai pandangan yang fanatik, bahwa
hanya agama kita sendiri saja yang paling benar, maka itu menjadi penghalang
yang paling berat dalam usaha memberikan sesuatu pandangan yang optimis. Namun
ketika kontak-kontak antaragama sering kali terjadi sejak tahun 1950-an, maka
muncul paradigma dan arah baru dalam pemikiran keagamaan. Orang tidak lagi
bersikap negatif dan apriori terhadap agama lain. Bahkan mulai muncul pengakuan
positif atas kebenaran agama lain yang pada gilirannya mendorong terjadinya
saling pengertian.
Di masa lampau, kita berusaha menutup diri dari tradisi
agama lain dan menganggap agama selain agama kita sebagai lawan yang sesat
serta penuh kecurigaan terhadap berbagai aktivitas agama lain, maka sekarang
kita lebih mengedepankan sikap keterbukaan dan saling menghargai satu sama
lain.
B. Kendala-Kendala
1. Rendahnya Sikap Toleransi
Menurut Dr. Ali Masrur, M.Ag, salah satu masalah dalam
komunikasi antar agama sekarang ini, khususnya di Indonesia, adalah munculnya
sikap toleransi malas-malasan (lazy tolerance) sebagaimana diungkapkan P.
Knitter. Sikap ini muncul sebagai akibat dari pola perjumpaan tak langsung
(indirect encounter) antar agama, khususnya menyangkut persoalan teologi yang
sensitif. Sehingga kalangan umat beragama merasa enggan mendiskusikan
masalah-masalah keimanan. Tentu saja, dialog yang lebih mendalam tidak terjadi,
karena baik pihak yang berbeda keyakinan/agama sama-sama menjaga jarak
satu sama lain.
Masing-masing agama mengakui
kebenaran agama lain, tetapi kemudian membiarkan satu sama lain bertindak
dengan cara yang memuaskan masing-masing pihak. Yang terjadi hanyalah
perjumpaan tak langsung, bukan perjumpaan sesungguhnya. Sehingga dapat
menimbulkan sikap kecurigaan diantara beberapa pihak yang berbeda agama, maka
akan timbullah yang dinamakan konflik.
2. Kepentingan Politik
Faktor Politik, Faktor ini terkadang menjadi faktor penting
sebagai kendala dalam mncapai tujuan sebuah kerukunan antar umat beragama
khususnya di Indonesia, jika bukan yang paling penting di antara faktor-faktor
lainnya. Bisa saja sebuah kerukunan antar agama telah dibangun dengan bersusah
payah selama bertahun-tahun atau mungkin berpuluh-puluh tahun, dan dengan
demikian kita pun hampir memetik buahnya.
Namun tiba-tiba saja muncul kekacauan politik yang ikut
memengaruhi hubungan antaragama dan bahkan memorak-porandakannya seolah petir
menyambar yang dengan mudahnya merontokkan “bangunan dialog” yang sedang kita
selesaikan. Seperti yang sedang terjadi di negeri kita saat ini, kita tidak
hanya menangis melihat political upheavels di negeri ini, tetapi lebih dari itu
yang mengalir bukan lagi air mata, tetapi darah; darah saudara-saudara kita,
yang mudah-mudahan diterima di sisi-Nya. Tanpa politik kita tidak bisa hidup
secara tertib teratur dan bahkan tidak mampu membangun sebuah negara, tetapi
dengan alasan politik juga kita seringkali menunggangi agama dan
memanfaatkannya.
3. Sikap Fanatisme
Di kalangan Islam, pemahaman agama secara eksklusif juga ada
dan berkembang. Bahkan akhir-akhir ini, di Indonesia telah tumbuh dan
berkembang pemahaman keagamaan yang dapat dikategorikan sebagai Islam radikal
dan fundamentalis, yakni pemahaman keagamaan yang menekankan praktik keagamaan
tanpa melihat bagaimana sebuah ajaran agama seharusnya diadaptasikan dengan
situasi dan kondisi masyarakat. Mereka masih berpandangan bahwa Islam adalah
satu-satunya agama yang benar dan dapat menjamin keselamatan menusia. Jika
orang ingin selamat, ia harus memeluk Islam. Segala perbuatan orang-orang
non-Muslim, menurut perspektif aliran ini, tidak dapat diterima di sisi Allah.
Pandangan-pandangan semacam ini tidak mudah dikikis karena
masing-masing sekte atau aliran dalam agama tertentu, Islam misalnya, juga
memiliki agen-agen dan para pemimpinnya sendiri-sendiri. Islam tidak bergerak
dari satu komando dan satu pemimpin. Ada banyak aliran dan ada banyak pemimpin
agama dalam Islam yang antara satu sama lain memiliki pandangan yang
berbeda-beda tentang agamanya dan terkadang bertentangan. Tentu saja, dalam
agama Kristen juga ada kelompok eksklusif seperti ini. Kelompok Evangelis,
misalnya, berpendapat bahwa tujuan utama gereja adalah mengajak mereka yang
percaya untuk meningkatkan keimanan dan mereka yang berada “di luar” untuk
masuk dan bergabung. Bagi kelompok ini, hanya mereka yang bergabung dengan
gereja yang akan dianugerahi salvation atau keselamatan abadi. Dengan saling
mengandalkan pandangan-pandangan setiap sekte dalam agama teersebut, maka
timbullah sikap fanatisme yang berlebihan.
Dari uraian diatas, sangat jelas sekali bahwa ketiga faktor
tersebut adalah akar dari permasalahan yang menyebabkan konflik sekejap maupun
berkepanjangan.
C. Solusi
1. Dialog Antar Pemeluk Agama
Sejarah perjumpaan agama-agama yang menggunakan kerangka
politik secara tipikal hampir keseluruhannya dipenuhi pergumulan, konflik dan
pertarungan. Karena itulah dalam perkembangan ilmu sejarah dalam beberapa
dasawarsa terakhir, sejarah yang berpusat pada politik yang kemudian disebut
sebagai “sejarah konvensional” dikembangkan dengan mencakup bidang-bidang
kehidupan sosial-budaya lainnya, sehingga memunculkan apa yang disebut sebagai
“sejarah baru” (new history). Sejarah model mutakhir ini lazim disebut sebagai
“sejarah sosial” (social history) sebagai bandingan dari “sejarah politik”
(political history). Penerapan sejarah sosial dalam perjumpaan Kristen dan
Islam di Indonesia akan sangat relevan, karena ia akan dapat mengungkapkan
sisi-sisi lain hubungan para penganut kedua agama ini di luar bidang politik,
yang sangat boleh jadi berlangsung dalam saling pengertian dan kedamaian, yang
pada gilirannya mewujudkan kehidupan bersama secara damai (peaceful
co-existence) di antara para pemeluk agama yang berbeda.
Hampir bisa dipastikan, perjumpaan Kristen dan Islam (dan
juga agama-agama lain) akan terus meningkat di masa-masa datang. Sejalan dengan
peningkatan globalisasi, revolusi teknologi komunikasi dan transportasi, kita
akan menyaksikan gelombang perjumpaan agama-agama dalam skala intensitas yang
tidak pernah terjadi sebelumnya. Dengan begitu, hampir tidak ada lagi suatu
komunitas umat beragama yang bisa hidup eksklusif, terpisah dari lingkungan
komunitas umat-umat beragama lainnya. Satu contoh kasus dapat diambil: seperti
dengan meyakinkan dibuktikan Eck (2002), Amerika Serikat, yang mungkin oleh
sebagian orang dipandang sebagai sebuah “negara Kristen,” telah berubah menjadi
negara yang secara keagamaan paling beragam. Saya kira, Indonesia, dalam batas
tertentu, juga mengalami kecenderungan yang sama. Dalam pandangan saya, sebagian
besar perjumpaan di antara agama-agama itu, khususnya agama yang mengalami
konflik, bersifat damai. Dalam waktu-waktu tertentu ketika terjadi
perubahan-perubahan politik dan sosial yang cepat, yang memunculkan krisis
pertikaian dan konflik sangat boleh jadi meningkat intensitasnya. Tetapi hal
ini seyogyanya tidak mengaburkan perspektif kita, bahwa kedamaian lebih sering
menjadi feature utama. Kedamaian dalam perjumpaan itu, hemat saya, banyak
bersumber dari pertukaran (exchanges) dalam lapangan sosio-kultural atau
bidang-bidang yang secara longgar dapat disebut sebagai “non-agama.”
Bahkan terjadi juga pertukaran yang semakin intensif
menyangkut gagasan-gagasan keagamaan melalui dialog-dialog antaragama dan
kemanusiaan baik pada tingkat domestik di Indonesia maupun pada tingkat
internasional; ini jelas memperkuat perjumpaan secara damai tersebut. Melalui
berbagai pertukaran semacam ini terjadi penguatan saling pengertian dan, pada
gilirannya, kehidupan berdampingan secara damai.
2. Bersikap Optimis
Walaupun berbagai hambatan menghadang jalan kita untuk
menuju sikap terbuka, saling pengertian dan saling menghargai antaragama, saya
kira kita tidak perlu bersikap pesimis. Sebaliknya, kita perlu dan seharusnya
mengembangkan optimisme dalam menghadapi dan menyongsong masa depan
dialog.Paling tidak ada tiga hal yang dapat membuat kita bersikap optimis.
Pertama, pada beberapa dekade terakhir ini studi
agama-agama, termasuk juga dialog antaragama, semakin merebak dan berkembang di
berbagai universitas, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain di berbagai
perguruan tinggi agama, IAIN dan Seminari misalnya, di universitas umum seperti
Universitas Gajah Mada, juga telah didirikan Pusat Studi Agama-agama dan Lintas
Budaya. Meskipun baru seumur jagung, hal itu bisa menjadi pertanda dan
sekaligus harapan bagi pengembangan paham keagamaan yang lebih toleran dan pada
akhirnya lebih manusiawi. Juga bermunculan lembaga-lembaga kajian agama,
seperti Interfidei dan FKBA di Yogyakarta, yang memberikan sumbangan dalam menumbuhkembangkan
paham pluralisme agama dan kerukunan antarpenganutnya.
Kedua, para pemimpin masing-masing agama semakin sadar akan
perlunya perspektif baru dalam melihat hubungan antar-agama. Mereka seringkali
mengadakan pertemuan, baik secara reguler maupun insidentil untuk menjalin
hubungan yang lebih erat dan memecahkan berbagai problem keagamaan yang tengah
dihadapi bangsa kita dewasa ini. Kesadaran semacam ini seharusnya tidak hanya
dimiliki oleh para pemimpin agama, tetapi juga oleh para penganut agama sampai
ke akar rumput sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara pemimpin agama dan
umat atau jemaatnya. Kita lebih mementingkan bangunan-bangunan fisik
peribadatan dan menambah kuantitas pengikut, tetapi kurang menekankan kedalaman
(intensity) keberagamaan serta kualitas mereka dalam memahami dan mengamalkan
ajaran agama.
Ketiga, masyarakat kita sebenarnya semakin dewasa dalam
menanggapi isu-isu atau provokasi-provokasi. Mereka tidak lagi mudah disulut
dan diadu-domba serta dimanfaatkan, baik oleh pribadi maupun kelompok demi
target dan tujuan politik tertentu. Meskipun berkali-kali masjid dan gereja
diledakkan, tetapi semakin teruji bahwa masyarakat kita sudah bisa membedakan
mana wilayah agama dan mana wilayah politik. Ini merupakan ujian bagi agama autentik
(authentic religion) dan penganutnya. Adalah tugas kita bersama, yakni
pemerintah, para pemimpin agama, dan masyarakat untuk mengingatkan para aktor
politik di negeri kita untuk tidak memakai agama sebagai instrumen politik dan
tidak lagi menebar teror untuk mengadu domba antarpenganut agama.
Jika tiga hal ini bisa dikembangkan dan kemudian diwariskan
kepada generasi selanjutnya, maka setidaknya kita para pemeluk agama masih
mempunyai harapan untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan pada gilirannya
bisa hidup berdampingan lebih sebagai kawan dan mitra daripada sebagai lawan.
D. Agama Islam Merupakan Rahmat Bagi
Seluruh Alam
1. Makna agama Islam
Kata islam berarti damai, selamat, sejahtera,penyerahan
diri, taat dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama islam adalah
agama yang mengandung ajaran yang menciptakan kedamaian, keselamatan dan
kesejahteraan kehidupan ummat manusia pada sebagai penerima amanah allah yang
dapat menjalagkan amanah tersebut secara benar dan kaffah.
Agama islam adalah agama yang allah turunkan sejak manusia
pertama, nabi pertama yaitu nabi adam as. Agama islam itu kemudian allah
turunkan secara berkisenambungan pada para nabi dan rasul rasulnya. Aknir
proses penurunan agama islam itu baru menjadi pada masa kerasulan nabi Muhammad
pada awal abad ke-v11 masehi. Islam sbagai nama agama yang allah turunkan belum
dinyatakan secara eksplisit pada masa kerasulan sebelum nabi Muhammad saw.
Tetapi makna yang substansi ajaranya secara implicit memiliki persamaan yang
dapat dipahami yang dapat dipahami dari penyataan sikap para rasul. Sebagaimana
firman allah dalam surah al- baqarah ayat 132 yang artinya:
"hai anak anakku (kata Ibrahim )sesungguhnya allah
telah memilih agama ini bagimu maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk
agama islam." (Q S al-baqarah 132)
Ajaran agama islam memiliki karakteristik sbb:
1. sesuai dengan fitrah manusia
2. ajarannya sempurna
3. kebenarannya mutlak
4. mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan
5. fleksibel dan ringan
6. berlaku scara universal
7. sesuai dengan akal pikiran dan memotivasi manusia untuk menggunakan akal pikirannya
8. inti ajarannya adalah tauhid
9. menciptakan rahmat, kasih syang Allah terhadap mahluknya
1. sesuai dengan fitrah manusia
2. ajarannya sempurna
3. kebenarannya mutlak
4. mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan
5. fleksibel dan ringan
6. berlaku scara universal
7. sesuai dengan akal pikiran dan memotivasi manusia untuk menggunakan akal pikirannya
8. inti ajarannya adalah tauhid
9. menciptakan rahmat, kasih syang Allah terhadap mahluknya
2. makna ukhuwah insyaniah
Fungsi sebagai rahmat llah telah dijelaskan dalam al-quran
surah al anbiya ‘ ayat 107 yang artinya:
‘’dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi
rahmat bagi semesta alam’’(QS al- anbiya ‘ayat 107)"
Bentuk-bentuk kerahmatan Allah pada
ajaran islam sbb:
1. Islam memberikan kebebasan pada manusia untuk menggunakan
potensi yang diberikan Allah
2. Islam menghargai dan menghormati manusiasebagai hamba
allah, baik mereka muslim maupun non muslim
3. Islam mengatur pemamfaatan alam secara baik dan
professional
4. Islam menghormati kondisi spesifk indifidu manusia dan
memberikan pelakuan yang spesifik pula.
E. Ukhuwah Islamiyah Dan Ukhuwah
Insaniyah
1. makna ukhuwah islamiyah
kata ukhuwah berarti persaudaraan, maksudnya perasaan
simpati daan empati antara dua orang atau lebih. Persaudaraan sesame muslim
berarti saling menghargai dan saling menghormati relativitas masing masing
sebagai sifat dasar kemanusiaan, seperti perbedaan pemikiran, sehingga tidak
menjadi penghalang untuk saling membantu atau menolong karena diantara mereka
terkait oleh satu keyakinan dan dan jalan hidup, yaitu islam.sebagaimana
disebutkan dalam al quran surat alhujarat ayat 10: yang artinya:
‘’sesungguhnya orang orang mukmin
adalah bersaudara, karna itu damaikanlah antara kedua”
2. makna ukhuwah insaniyah
konsep sesama persaudaran manusia
(ukhuwah insaniyah) di landasi ajaran bahwa semua ummat manusia adalah makhluk
Allah. Sebagaimana Allah menjelaskan dalam al-quran surah al-maidah ayat 48.
Dalam praktek keterangan yang sering timbul antar ummat
beragama dengan pemerintahan disebabkan oleh:
1. Sifat dari masing masing agama yang mengandung tugas dakwa atau misi
2. Kekurangan pengetahuan pemeluk agama akan agamanya atau sendiri atau agama pihak lain
3. Para pemwluk agamma tidak mampu menahan diri, sehingga kurang menghormati bahkan memandang renda agama lain.
4. Kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam dalam kehidupan masayarakat
5. Kecurigaan masing masing akan kejujuran pihak lain, baik intern ummat, beragama maupun antara ummat beragama dengan pemerintah
6. Kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat
1. Sifat dari masing masing agama yang mengandung tugas dakwa atau misi
2. Kekurangan pengetahuan pemeluk agama akan agamanya atau sendiri atau agama pihak lain
3. Para pemwluk agamma tidak mampu menahan diri, sehingga kurang menghormati bahkan memandang renda agama lain.
4. Kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam dalam kehidupan masayarakat
5. Kecurigaan masing masing akan kejujuran pihak lain, baik intern ummat, beragama maupun antara ummat beragama dengan pemerintah
6. Kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat
Dalam pembinaan ummat beragama, para pemimpin dan tokoh
dalam mempunyai peranan yang besar, yaitu:
1. Menerjemahkan nilai nilai dan norma norma agama dalam masyarakat
2. Menerjemahkan gagasan pembangunan kedalam bahasa yang di mengerti masyarakat
3. Memberikan pendapat, saran dan kritik yang sehat terhadap ide ide dan cara cara yang di lakukan untuk tugasnyanya pembangunan
4. Mendorong pembangunan dan membimbing masyarakat dan ummat beragama untuk serta dalam usaha
1. Menerjemahkan nilai nilai dan norma norma agama dalam masyarakat
2. Menerjemahkan gagasan pembangunan kedalam bahasa yang di mengerti masyarakat
3. Memberikan pendapat, saran dan kritik yang sehat terhadap ide ide dan cara cara yang di lakukan untuk tugasnyanya pembangunan
4. Mendorong pembangunan dan membimbing masyarakat dan ummat beragama untuk serta dalam usaha
F. Kebersamaan Ummat Beragama Dalam Kehidupan Sosial
1. pandangan agama islam terhadap
ummat non Islam
Dari segi kaidah, setiap orang yang
tidak mau menerima islam sebagai agamanya di sebut kafir atau non islam . Kata
kafir berarti orang yang menolak, yang tidak mau menerima atau menolak menaati
aturan allah yang diwujudkan kepada manusia melalui ajaran islam.
Ketika rasulullah mulai menyampaikan
ajaran islam kepada masyarakat arab, sebagian dari mereka ada yang mau menerima
ajaran tersebut dan sebagianya lagi menolak orang yang menolak ajakan
rasulullah saw tersebut di sebut juga kafir. Mereka terdiri dari orang orang
musrik yang menyembah berhala di sebut orang watsani, dan orang orang ahli
kitab baik orang yahudi maupun orang nasrani.
2. Tanggung jawab sosial ummat Islam
Ummat islam adalah umat yang terbaik yang diciptakan allah
dalam kehidupan ini. Bentuk tanggung jawab sosial ummat islam meliputi berbagai
aspek kehidupan , di antaranya adalah:
1. Menjalin silaturahmi dengan tetangga dalam sebuah hadis
rasulullah menjadikan sebuah kebaikan seseorang kepada tetangganya menjadi
salah satu indicator keimanan
2. Memberikan infak sebagian dari
harta yang dimiliki, baik yang wajib dalm bentuk zakat maupun yang sunnah dalam
bentuk sedekah.
3. Menjenguk bila ada anggota
masyarakat yang sakit dan ta’ziyah bila ada anggota masyarakat yang meninggal
dengan mengantar jenazahnya sampai di kuburnya.
4. Memberi bantuan kepada masyarakat
bila ada yang memerlukan bantuan
5. Penyusunan system sosial yang
efektif dan efesien untuk membangun masyarakat, baik mental spiritual maupun
fisik materialnya.
3. amar ma’ruf dan nahi munkar
Amar ma’ruf dan nahi munkar adalah memerintahkan orang lain
untuk berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat. Disamping system dan saran
pendukung, amar ma’ruf dan nahi munkar memerlukan juga kebijakan dalam bertindak.
Karna itu rasulullah memberikan tiga tingkatan yaitu:
1. Menggunakan tangan atau kekuasaan apabila ia mampu,
2. Menggunakan lisan, dan
3. Dalam hati apabila langkah pertama dan kedua tidak mmemungkinkan.
1. Menggunakan tangan atau kekuasaan apabila ia mampu,
2. Menggunakan lisan, dan
3. Dalam hati apabila langkah pertama dan kedua tidak mmemungkinkan.
Bentuk amar ma’ruf dan nahi munkar yang bersistem diantaranya adalah:
1. Mendirikan mesjid
2. Menyelenggarakan pengajian
3. Mendirikan lembaga wakaf
4. Mendirikan lembaga pendidikan islam
5. Mendirikan lembaga keuangan atau perbangkan syariah
6. Mendirikan media massa islam, Koran, radio, tv dan lain lain
7. Mendirikan panti rehabilitasi anak anak nakal
8. Mendirikan pesantren
9. Menyelenggarakan kajian-kajian islam
10. Membuat jaringan informasi social
BAB
III
KESIMPULAN
DAN SARAN
Dari pembahasan dalam makalah ini, dapat kami simpulkan
berbagai macam bahasan mengenai kerukunan antar umat beragama, yaitu :
Kendala-kendala yang dihadapi dalam mencapai kerukunan umat antar beragama ada
beberapa sebab, antara lain;
1.Rendahnya Sikap Toleransi
2.Kepentingan Politik dan
3. Sikap Fanatisme
2.Kepentingan Politik dan
3. Sikap Fanatisme
Adapun solusi untuk menghadapinya,
adalah dengan melakukan Dialog Antar Pemeluk Agama dan menanamkan Sikap Optimis
terhadap tujuan untuk mencapai kerukunan antar umat beragama.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahim, Muhammad, imanuddin,
kuliah tauhid, (Jakarta: Yayasan Sari Insan)
http://cippad.usc.edu/ai/themes/cfm/culture_b
Dr. Ali Masrur, M.Ag.,2004,Problem
dan Prospek Dialog Antaragama. Artikel. cfm
Koran bali post cetak 29/12/2003.
Ansari, Zafar Ishaq & John L.
Esposito, eds., 2001, Muslims and the West: Encounter and Dialogue, Islamabad
& Washington DC., Islamic Research Institute, International Islamic
University & Center for Muslim-Christian Understanding, Georgetown
University
Koran bali post cetak 29/12/2003/.
Hlm 3
Dr. Ali Masrur, M.Ag.Problem dan
Prospek Dialog Antaragama. Artikel.
Ansari, Zafar Ishaq & John L.
Esposito, eds., 2001, Muslims and the West: Encounter and Dialogue, Islamabad
& Washington DC., Islamic Research Institute, International Islamic
University & Center for Muslim-Christian Understanding, Georgetown
University. Hlm 57-58
Dr. Ali Masrur, M.Ag. Op. Cit.
Ash-Shiddiqieqy, Hasbi TM, Sejarah
Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1997.
Al-Faruqi, Ismail. Atlas Budaya
Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilan, Cet. III, Mizan : Bandung, 2001.
Cuolson, N.J. A. History Of Islamic
Law. Edinburg : Edinburg University, Press. 1964.
Basyir, Ahmad Azhar. Hukum Islam
Tentang Wakaf, Ijarah Dan syirkah (Bandung : al-Ma’arif, 1987.
3.
Etnosentrisme
( artinya adalah seseorang mengatakan budayanya lebih bagus dari pada budaya
lain )
Jawab :
Etnosentrisme dalam Kehidupan Bangsa Indonesia
Etnosentrisme
adalah sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan
sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan
masyarakat dan kebudayaan lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Etnosentrisme
cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme
memandang dan mengukur budaya asing dengan budayanya sendiri (The Random
Dictionary).
Ketika suku bangsa
yang satu menganggap suku bangsa yang lain lebih rendah maka sikap demikian
akan menimbulkan konflik. Konflik tersebut, misalnya kasus sara, yaitu
pertentangan yang didasari oleh suku, agama, ras, dan antargolongan. Dampak
negatif yang lebih luas dari sikap etnosentrisme antara lain:
a.
Mengurangi keobjektifan ilmu pengetahuan
b.
Menghambat pertukaran budaya
c.
Menghambat proses asimilasi kelompok yang berbeda
d.
Memacu timbulnya konflik sosial
Di sisi yang lain,
jika dilihat dari fungsi sosial, etnosentrisme dapat menghubungkan seseorang
dengan kelompok sehingga dapat menimbulkan solidaritas kelompok yang sangat
kuat. Dengan memiliki rasa solidaritas, setiap individu akan bersedia
memberikan pengorbanan secara maksimal. Sikap etnosentrisme diajarkan kepada
kelompok bersama dengan nilai-nilai kebudayaan. Salah satu bukti adanya sikap
etnosentrisme adalah hampir setiap individu merasa bahwa kebudayaannya yang
paling baik dan lebih tinggi dibanding dengan kebudayaan lainnya, misalnya:
a.
Bangsa Amerika bangga akan kekayaan materinya
b.
Bangsa Mesir bangga akan peninggalan kepurbakalaan yang bernilai tinggi
c.
Bangsa Prancis bangga akan bahasanya
d.
Bangsa Italia bangga akan musiknya
Etnosentrisme terjadi
jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur
dengan kebudayaan lain. Porter dan Samovar mendefinisikan etnosentrisme seraya
menuturkan, “Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme,
yaitu kecenderungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan
kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk
penilaian. Makin besar kesamaan kita dengan mereka, makin dekat mereka dengan
kita; makin besar ketidaksamaan, makin jauh mereka dari kita. Kita cenderung
melihat kelompok kita, negeri kita, budaya kita sendiri, sebagai yang paling
baik, sebagai yang paling bermoral.” Etnosentrisme membuat kebudayaan kita
sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya kebudayaan lain dalam proporsi
kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam ungkapan : “orang-orang
terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita cepat
mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri
sendiri. Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu
masyarakat bersifat etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan
etnosentrisme, tetapi tidak semua anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian
dari kita adalah sangat etnosentris untuk mengimbangi kekurangan-kekurangan
kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial telah membentuk kaitan
erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme. Kecenderungan
etnosentrisme berkaitan erat dengan kemampuan belajar dan berprestasi. Dalam
buku The Authoritarian Personality, Adorno (1950) menemukan bahwa orang-orang
etnosentris cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang
fanatik. Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai
kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri
disertai prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain. Yang artinya orang
yang etnosentris susah berasimilasi dengan bangsa lain, bahkan dalam proses
belajar-mengajar.
Etnosentrisme akan
terus marak apabila pemiliknya tidak mampu melihat human encounter sebagai
peluang untuk saling belajar dan meningkatkan kecerdasan, yang selanjutnya
bermuara pada prestasi. Sebaliknya, kelompok etnis yang mampu menggunakan
perjumpaan mereka dengan kelompok-kelompok lain dengan sebaik-baiknya, di mana
pun tempat terjadinya, justru akan makin meninggalkan etnosentrisme. Kelompok
semacam itu mampu berprestasi dan menatap masa depan dengan cerah.
Etnosentrisme
mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut mengukuhkan kembali “keanggotaan”
seseorang dalam kelompok sambil memberikan penjelasan sederhana yang cukup
menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik. Kalangan kolot, yang terasing
dari masyarakat, yang kurang berpendidikan, dan yang secara politis konservatif
bisa saja bersikap etnosentris, tetapi juga kaum muda, kaum yang berpendidikan
baik, yang bepergian jauh, yang berhaluan politik “kiri” dan yang kaya [Ray,
1971; Wilson et al, 1976]. Masih dapat diperdebatkan apakah ada suatu variasi
yang signifikan, berdasarkan latar belakang sosial atau jenis kepribadian,
dalam kadar etnosentris seseorang.
Dampak positif dari
etnosentrisme yaitu dapat mempertinggi semangat patriotisme, menjaga keutuhan
dan stabilitas kebudayaan, serta mempertinggi rasa cinta pada bangsa sendiri.
Menurut saya, kita
sebagai bangsa Indonesia sudah seharusnya meniadakan sifat etnosentrisme di
kehidupan diri kita, kita tidak boleh memandang negara lain leih buruk dari
kita, mari kita membuka pandangan seluas-luasnya, kalau negara lain lebih maju
dari kita, mari kita akui saja mereka lebih maju, jadikan mereka sebagai pacuan
agar kita dapat menyaingi kemajuan negara tersebut.
Dikutip dari:
http://kbbi.web.id/etnosentrisme
http://blog-pelajaransekolah.blogspot.com/2013/06/pengertian-etnosentrisme.html
http://hanydina.blogspot.com/2013/02/primordialisme-melahirkan-etnosentrisme.html
https://communicationista.wordpress.com/2009/08/22/pengertian-etnosentrisme-dan-xenosentrisme/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar