Limbah
Industri Tahu
Limbah industri tahu pada
umumnya dibagi menjadi 2 (dua) bentuk limbah, yaitu limbah padat dan limbah
cair. Limbah padat pabrik pengolahan tahu berupa kotoran hasil pembersihan
kedelai (batu, tanah, kulit kedelai, dan benda padat lain yang menempel pada
kedelai) dan sisa saringan bubur kedelai yang disebut dengan ampas tahu. Limbah
padat yang berupa kotoran berasal dari proses awal (pencucian) bahan baku
kedelai dan umumnya limbah padat yang terjadi tidak begitu banyak (0,3% dari
bahan baku kedelai). Sedangkan limbah padat yang berupa ampas tahu terjadi pada
proses penyaringan bubur kedelai. Ampas tahu yang terbentuk besarannya berkisar
antara 25-35% dari produk tahu yang dihasilkan.
Limbah cair pada proses produksi tahu berasal
dari proses perendaman, pencucian kedelai, pencucian peralatan proses produksi
tahu, penyaringan dan pengepresan/pencetakan tahu. jumlah kebutuhan air proses
dan jumlah limbah cair yang dihasilkan dilaporkan berturut-turut sebesar 45 dan
43,5 liter untuk tiap kilogram bahan baku kacang kedelai. Pada beberapa
industri tahu, sebagian kecil dari limbah cair tersebut (khususnya air dadih) dimanfaatkan
kembali sebagai bahan penggumpal. Sebagian besar limbah cair yang dihasilkan
oleh industri pembuatan tahu adalah cairan kental yang terpisah dari gumpalan
tahu yang disebut dengan air dadih (whey). Limbah cair industri tahu mengandung
bahan-bahan organik kompleks yang tinggi terutama protein dan asam-asam
amino dalam bentuk padatan tersuspensi maupun terlarut. Adanya
senyawa-senyawa organik tersebut menyebabkan limbah cair industri tahu
mengandung BOD, COD dan TSS yang tinggi. Limbah ini sering dibuang secara
langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga menghasilkan bau busuk dan
mencemari lingkungan.
E. Karakteristik Limbah
Industri Tahu
Karakteristik buangan industri tahu meliputi
dua hal, yaitu karakteristik fisika dan kimia. Karakteristik Fisika meliputi
padatan total, padatan tersuspensi, suhu, warna, dan bau. Karakteristik kimia
meliputi bahan organik, bahan anorganik dan gas. Suhu air limbah tahu berkisar
37-45°C, kekeruhan 535-585 FTU, warna 2.225-2.250 Pt.Co, amonia 23,3-23,5 mg/1,
BOD5 6.000-8.000 mg/1 dan COD 7.500-14.000 mg/1.
Suhu buangan industri tahu berasal dari
proses pemasakan kedelai. Suhu limbah cair tahu pada umumnya lebih tinggi dari
air bakunya, yaitu 400C-460C. Suhu yang meningkat di lingkungan perairan akan
mempengaruhi kehidupan biologis, kelarutan oksigen dan gas lain, kerapatan air,
viskositas, dan tegangan permukaan. Bahan-bahan organik yang terkandung di
dalam buangan industri tahu pada umumnya sangat tinggi. Senyawa-senyawa organik
di dalam air buangan tersebut dapat berupa protein, karbohidrat, lemak dan
minyak. Diantara senyawa-senyawa tersebut, protein dan lemak adalah yang
jumlahnya paling besar. Protein mencapai 40-60%, karbohidrat 25-50% dan lemak
10%. Air buangan industri tahu kualitasnya bergantung dari proses yang
digunakan. Apabila air prosesnya baik, maka kandungan bahan organik pada air
buangannya biasanya rendah. Komponen terbesar dari limbah cair tahu yaitu
protein (Ntotal) sebesar 226,06-434,78 mg/l, sehingga masuknya limbah cair tahu
ke lingkungan perairan akan meningkatkan total nitrogen di perairan tersebut .
Gas-gas yang biasa ditemukan dalam limbah
tahu adalah gas nitrogen (N2). Oksigen (O2), hidrogen sulfida (H2S), amonia
(NH3), karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Gas-gas tersebut berasal dari
dekomposisi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air buangan (Herlambang,
2002).
Limbah
padat industri tahu berupa kulit kedelai dan ampas tahu. Ampas tahu masih
mengandung kadar protein cukup tinggi sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai
bahan pakan ternak dan ikan. Akan tetapi kandungan air ampas tahu yang masih
tinggi merupakan penghambat digunakannya ampas tahu sebagai makanan ternak.
Salah satu sifat dari ampas tahu ini adalah mempunyai sifat yang cepat tengik
(basi dan tidak tahan lama) dan menimbulkan bau busuk kalau tidak cepat
dikelola. Pengeringan merupakan salah satu jalan untuk mengatasinya.
Pengeringan juga mengakibatkan berkurangnya asam lemak bebas dan ketengikan
ampas tahu serta dapat memperpanjang umur simpan.
F. Dampak Limbah
Industri Tahu
Herlambang (2002) menuliskan dampak yang
ditimbulkan oleh pencemaran bahan organik limbah industri tahu adalah gangguan
terhadap kehidupan biotik. Turunnya kualitas air perairan akibat meningkatnya
kandungan bahan organik. Aktivitas organisme dapat memecah molekul organik yang
kompleks menjadi molekul organik yang sederhana. Bahan anorganik seperti ion
fosfat dan nitrat dapat dipakai sebagai makanan oleh tumbuhan yang melakukan
fotosintesis. Selama proses metabolisme oksigen banyak dikonsumsi, sehingga
apabila bahan organik dalam air sedikit, oksigen yang hilang dari air akan
segera diganti oleh oksigen hasil proses fotosintesis dan oleh reaerasi dari
udara. Sebaliknya jika konsentrasi beban organik terlalu tinggi, maka akan
tercipta kondisi anaerobik yang menghasilkan produk dekomposisi berupa amonia,
karbondioksida, asam asetat, hirogen sulfida, dan metana. Senyawa-senyawa
tersebut sangat toksik bagi sebagian besar hewan air, dan akan menimbulkan
gangguan terhadap keindahan (gangguan estetika) yang berupa rasa tidak nyaman
dan menimbulkan bau. (Kaswinarni, 2007)
Limbah cair yang dihasilkan mengandung
padatan tersuspensi maupun terlarut, akan mengalami perubahan fisika, kimia,
dan hayati yang akan menimbulkan gangguan terhadap kesehatan karena
menghasilkan zat beracun atau menciptakan media untuk tumbuhnya kuman penyakit
atau kuman lainnya yang merugikan baik pada produk tahu sendiri ataupun tubuh
manusia. Bila dibiarkan, air limbah akan berubah warnanya menjadi cokelat
kehitaman dan berbau busuk. Bau busuk ini mengakibatkan sakit pernapasan.
Apabila air limbah ini merembes ke dalam tanah yang dekat dengan sumur maka air
sumur itu tidak dapat dimanfaatkan lagi. Apabila limbah ini dialirkan ke sungai
maka akan mencemari sungai dan bila masih digunakan akan menimbulkan gangguan
kesehatan yang berupa penyakit gatal, diare, kolera, radang usus dan penyakit
lainnya, khususnya yang berkaitan dengan air yang kotor dan sanitasi lingkungan
yang tidak baik.
G. Pengolahan Limbah Padat
Industri Tahu
Limbah padat industri tahu meliputi ampas
tahu yang diperoleh dari hasil pemisahan bubur kedelai. Ampas tahu masih
mengandung protein yang cukup tinggi (Tabel 2) sehingga masih dapat
dimanfaatkan kembali. (KLH, 2006). Ampas tahu masih mengandung protein 27 gr,
karbohidrat 41,3 gr, maka dimungkinkan untuk dimanfaatkan kembali menjadi
kecap, taoco, tepung yang dapat digunakan dalam pembuatan berbagai makanan (kue
kering, cake, lauk pauk, kerupuk, dll). Pada pembuatan kue dan aneka makanan,
pemakaian tepung tahu tersebut dapat disubstitusikan ke dalam gandum. Pemakaian
tepung ampas tahu sebagai bahan substitusi gandum mempunyai manfaat antara lain
dihasilkannya suatu produk yang masih mempunyai nilai gizi dan nilai ekonomi
serta lingkungan menjadi bersih (KLH,2006).
Karena sifat penggunaan tepung limbah tahu
ini sifatnya sebagai bahan pengganti, maka pada proses pembuatan makanan maupun
pakan ternak, selalu diawali dengan pembuatan tepung limbah padat tahu terlebih
dahulu. Proses pembuatan tepung serat ampas tahu yaitu sejumlah limbah padat
tahu (ampas tahu), diperas airnya selanjutnya dikukus ± 15 menit. Ampas yang
sudah dikukus, diletakkan diatas nyiru atau papan, selanjutnya dijemur diterik
matahari ataupun dikeringkan dengan oven. Apabila dilakukan pengeringan dengan
oven, dipakai temperatur 100oC selama 24 jam. Setelah kering dihaluskan dengan
cara digiling atau diblender dan diayak. Simpan tepung tahu ditempat yang
kering. Bentuk tepung seperti ini tahan lama, dan siap menjadi bahan baku
pengganti tepung terigu atau tepung beras untuk berbagai makanan. Penambahan
bahan lain disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan produk apa yang akan
dibuat.
Ampas tahu kebanyakan oleh masyarakat
digunakan sebagai bahan pembuat tempe gembus. Hal ini dilakukan karena proses
pembuatan tempe gembus yang mudah (tidak perlu keterampilan khusus) dan
biayanya cukup murah. Selain tempe gembus, ampas tahu juga diolah untuk
dijadikan pakan ternak. Proses pembuatannya yaitu campuran ampas tahu dan kulit
kedelai yang sudah tidak digunakan dicampur dengan air, bekatul, tepung ikan
dan hijauan, lalu diaduk hingga tercampur rata, kemudian siap diberikan ke
hewan ternak. Beberapa produk makanan dan aneka kue yang dibuat dengan
penambahan tepung serat ampas tahu adalah lidah kucing, chocolate cookie, cake
(roti bolu), dan kerupuk ampas tahu (KLH, 2006).
H. Pengolahan Limbah Cair
Industri Tahu
Berbagai upaya untuk mengolah limbah cair
industri tahu telah dicoba dandikembangkan. Secara umum, metode pengolahan yang
dikembangkan tersebut dapat digolongkan atas 3 jenis metode pengolahan, yaitu
secara fisika, kimia maupun biologis.
1. Cara fisika
Merupakan metode pemisahan sebagian dari
beban pencemaran khususnya padatan tersuspensi atau koloid dari limbah cair.
Dalam pengolahan limbah cair industri tahu secara fisika, proses yang dapat
digunakan antara lain adalah filtrasi dan pengendapan (sedimentasi). Filtrasi
(penyaringan) menggunakan media penyaring terutama untuk menjernihkan dan
memisahkan partikel-partikel kasar dan padatan tersuspensi dari limbah cair.
Padatan tersuspensi yang lolos dari penyaringan selanjutnya disisihkan dalam
unit sedimentasi dengan menambahkan koagulan sehinggga terbentuk flok. Proses
ini termasuk proses kimia. Dalam sedimentasi, flokflok padatan dipisahkan dari
aliran dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
2. Cara kimia
Merupakan metode penghilangan atau konversi
senyawa-senyawa polutan dalam limbah cair dengan penambahan bahan-bahan kimia
atau reaksi kimia lainnya. Beberapa proses yang dapat diterapkan dalam
pengolahan limbah cair industri tahu diantaranya termasuk koagulasi-flokulasi
dan netralisasi. Dalam proses koagulasi-flokulasi, partikel-partikel koloid
hidrofobik cenderung menyerap ion-ion bermuatan negatif dalam limbah cair
melalui sifat adsorpsi koloid tersebut, sehingga partikel tersebut menjadi
bermuatan negatif. Koloid bermuatan negatif ini melalui gaya-gaya Van der Waals
menarik ionion bermuatan berlawanan dan membentuk lapisan kokoh (lapisan
stern) mengelilingi partikel inti. Selanjutnya lapisan kokoh (stern) yang
bermuatan positif menarik ion-ion negatif lainnya dari dalam larutan membentuk
lapisan kedua (lapisan difus). Kedua lapisan tersebut bersama-sama menyelimuti
partikel-partikel koloid dan membuatnya menjadi stabil. Partikel-partikel
koloid dalam keadaan stabil menurut Davis dan Cornwell (1991) cenderung tidak
mau bergabung satu sama lainnya membentuk flok-flok berukuran lebih besar,
sehingga tidak dapat dihilangkan dengan proses sedimentasi ataupun filtrasi.
Koagulasi pada dasarnya merupakan proses
destabilisasi partikel koloid bermuatan dengan cara penambahan ion-ion
bermuatan berlawanan (koagulan) ke dalam koloid, dengan demikian partikel
koloid menjadi netral dan dapat beraglomerasi satu sama lain membentuk
mikroflok. Selanjutnya mikroflokmikroflok yang telah terbentuk dengan dibantu
pengadukan lambat mengalami penggabungan menghasilkan makroflok (flokulasi),
sehingga dapat dipisahkan dari dalam larutan dengan cara pengendapan atau
filtrasi.
Koagulan yang biasa digunakan antara lain
polielektrolit, aluminium, kapur, dan garam-garam besi. Masalah dalam
pengolahan limbah secara kimiawi adalah banyaknya endapan lumpur yang
dihasilkan , sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut. (Rahman. 2010)
3. Cara biologi
Dapat menurunkan kadar zat organik terlarut
dengan memanfaatkan mikroorganisme atau tumbuhan air. Pada dasarnya cara
biologi adalah pemutusan molekul kompleks menjadi molekul sederhana oleh
mikroorganisme. Proses ini sangat peka terhadap faktor suhu, pH, oksigen
terlarut (DO) dan zat-zat inhibitor terutama zat-zat beracun. Mikroorganisme
yang digunakan untuk pengolahan limbah adalah bakteri, algae, atau protozoa
Sedangkan tumbuhan air yang mungkin dapat digunakan termasuk gulma air (aquatic
weeds).
Metode
biologis lainnya dapat dilakukan dengan Anaerobik, Anaerobik-Biogas, Aerobik,
Kombinasi Anaerobik dan Aerobik.
a. Pengolahan Limbah
Cair Anaerobik
Proses anaerobik pada hakikatnya adalah
proses yang terjadi karena aktivitas mikroba yang dilakukan pada saat tidak
terdapat oksigen bebas. Proses anaerobik dapat digunakan untuk mengolah
berbagai jenis limbah yang bersifat biodegradable, termasuk limbah industri
makanan salah satunya adalah limbah tahu.
Proses biologi anaerobik merupakan sistem
pengolahan air limbah tahu yang banyak digunakan. Pertimbangan yang dilakukan
adalah mudah, murah dan hasilnya bagus. Proses biologi anaerobik merupakan
salah satu sistem pengolahan air limbah dengan memanfaatkan mikroorganisme yang
bekerja pada kondisi anaerob. Kumpulan mikroorganisme, umumnya bakteri,
terlibat dalam transformasi senyawa komplek organik menjadi metana. Selebihnya
terdapat interaksi sinergis antara bermacammacam kelompok bakteri yang berperan
dalam penguraian limbah.
Kelompok bakteri non metanogen yang
bertanggung jawab untuk proses hidrolisis dan fermentasi tardiri dari bakteri
anaerob fakultatif dan obligat. Mikroorganisme yang diisolasi dari digester
anaerobik adalah Clostridium spp., Peptococcus
anaerobus, Bifidobacterium spp., Desulphovibrio spp., Corynebacterium spp., Lactobacillus,Actonomyces, Staphylococcus,
and Eschericia coli (Metcalf and Eddy, 2003).
Ada tiga tahapan dasar yang termasuk dalam
keseluruhan proses pengolahan limbah secara oksidasi anaerobik, yaitu :
hidrolisis, fermentasi (yang juga dikenal dengan sebutan asidogenesis), dan
metanogenesis (Metcalf and Eddy, 2003). Selama proses hidrolsis, bakteri
fermentasi merubah materi organik kompleks yang tidak larut, seperti selulosa
menjadi molekul-molekul yang dapat larut, seperti asam lemak, asam amino dan
gula. Materi polimer komplek dihidrolisa menjadi monomer-monomer, contoh :
selulosa menjadi gula atau alkohol. Molekul-molekul monomer ini dapat langsung
dimanfaatkan oleh kelompok bakteri selanjutnya. Hidrolisis molekul kompleks
dikatalisasi oleh enzim ekstra seluler seperti selulase, protease, dan lipase.
Walaupun demikian proses penguraian anaerobik sangat lambat dan menjadi
terbatas dalam penguraian limbah selulolitik yang mengandung lignin.
Pada proses fermentasi (asidogenesis),
bakteri asidogenik (pembentuk asam) merubah gula, asam amino, dan asam lemak
menjadi asam-asam organik (asam asetat, propionate, butirat, laktat, format)
alkohol dan keton (etanol, methanol, gliserol dan aseton), asetat, CO2 dan H2.
Produk utama dari proses fermentasi ini adalah asetat. Hasil dari fermentasi
ini bervariasi tergantung jenis bakteri dan kondisi kultur seperti pH dan suhu.
Proses metanogenesis dilaksanakan oleh suatu
kelompok mikroorganisme yang dikenal sebagai bakteri metanogen. Ada dua
kelompok bakteri metanogen yang dilibatkan dalam proses produksi metan.
Kelompok pertama, aceticlastic methanogens, membagi asetat ke dalam
metan dan karbondioksida. Kelompok kedua, hidrogen memanfaatkan metanogen,
yaitu menggunakan hidrogen sebagai donor elektron dan CO2 sebagai aseptor
elektron untuk memproduksi metan. Bakteri di dalam proses anaerobik, yaitu
bakteri acetogens, juga mampu menggunakan CO2 untuk mengoksidasi
dan bentuk asam asetat. Dimana asam asetat dikonversi menjadi metan. Sekitar
72% metan yang diproduksi dalam digester anaerobik adalah formasi dari asetat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
anaerobik (Monnet, 2003) yaitu :
· Suhu.
Proses anaerobik dapat terjadi dibawah dua
kisaran kondisi suhu, yaitu kondisi mesopilik, yaitu antara 20-45oC, pada
umumnya 35oC dan kondisi thermopilik, yaitu antara 50-65oC, pada umumnya 55oC.
Suhu yang optimal dari proses anaerobik bervariasi tergantung pada komposisi
nutrient di dalam digester, tetapi kebanyakan proses anaerobik seharusnya
dipelihara secara konstan untuk mendukung tingkat produksi gas. Digester
termopilik lebih efisien dalam hal waktu tinggal, tingkat kapasitas, dan jumlah
produksi gas, tetapi di lain hal membutuhkan input panas yang lebih tinggi dan
mempunyai sensitivitas yang tinggi yang membuat proses lebih problematik
daripada digesti mesopilik.
· Waktu
Tinggal.
Waktu tinggal adalah waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai proses degradasi materi-materi organik yang sempurna. Waktu
tinggal bervariasi dengan memproses parameter-parameter, seperti memproses suhu
dan komposisi limbah. Waktu tinggal untuk limbah yang diperlakukan dalam
digester mesopilic dalam kisaran 15-30 hari dan 12-14 hari untuk digester
termopilik.
· pH.
Nilai pH yang optimal untuk proses
asidogenesis dan metanogenesis berbedabeda. Selama proses asidogenesis dibentuk
asetat, laktat, dan asam propionat, dengan demikian pH turun. pH yang rendah
dapat menghambat proses asidogenesis dan nilai pH dibawah 6,4 dapat bersifat
racun untuk bakteri pembentuk metan (pH optimal untuk proses metanogenesis
adalah antara 6,6-7). Kisaran pH optimal untuk semua yaitu antara 6,4-7,2.
· Rasio
Karbon dan Nitrogen (C:N).
Hubungan antara jumlah karbon dan nitrogen
yang hadir dalam materi organik di gambarkan oleh rasio C : N. Rasio optimal C
: N dalam proses anaerobik antara 20 : 30. Rasio C : N yang tinggi
mengidikasikan adanya konsumsi nitrogen yang cepat oleh bakteri metanogen dan
menghasilkan produksi gas yang rendah. Selain itu rasio C : N yang rendah
menyebabkan akumulasi ammonia dan nilai pH yang melebihi 8,5 dan ini bersifat
racun bagi bakteri matanogen.
· Mixing.
Mixing di dalam digester, meningkatkan kontak
antara mikroorganisme dengan substrat dan meningkatkan kemampuan populasi
bakteri untuk memperoleh nutrisi. Mixing juga membangun gradien suhu di dalam
digester. Mixing yang berlebihan dapat merusak mikroorganisme dan oleh karena
itu mixing yang lambat lebih disukai.
b. Anaerobik – Biogas
Secara umum proses anaerobik akan
menghasilkan gas Methana (Biogas). Biogas (gas bio) adalah gas
yang dihasilkan dari pembusukan bahan-bahan organik oleh bakteri pada kondisi anaerob
(tanpa ada oksigen bebas). Biogas tersebut merupakan campuran dari berbagai
macam gas antara lain : CH4 (54%-70%), CO2 (27%-45%), O2 (1%-4%), N2 (0,5%-3%),
CO (1%), dan H2 <<<<< (KLH, 2006). Sifat penting dari gas metan
ini adalah tidak berbau, tidak berwarna, beracun dan mudah terbakar. Karena
sifat gas tersebut, maka gas metan ini termasuk membahayakan bagi keselamatan
manusia (Sugiharto, 2005).
Penggunaan biogas ini merupakan salah satu
cara untuk mengurangi pencemaran lingkungan, karena dengan fermentasi bakteri
anaerob (bakteri metan) maka tingkat pengurangan pencemaran lingkungan dengan
parameter BOD, COD akan berkurang sampai 90%. Sistem ini banyak dipakai dengan
pertimbangan ada manfaat yang bisa diambil yaitu pemanfaatan biogas yang sangat
memungkinkan digunakan sebagai bahan sumber energi karena gas metan sama dengan
gas elpiji (liquid petroleum gas/LPG), perbedaannya adalah gas metan mempunyai
satu atom C, sedangkan elpiji lebih banyak. Contoh pemanfaatan biogas misalnya
untuk memasak, lampu penerangan, listrik generator, dan dapat menggantikan
bahan bakar yang lain, dsb (KLH, 2006).
Ada dua tipe alat pembangkit biogas atau
digester (LIPI, 2006), yaitu:
· Tipe
Terapung (Floating Type)
Tipe terapung ini banyak dikembangkan di India
yang terdiri atas sumur pencerna dan diatasnya ditaruh drum terapung dari besi
terbalik yang berfungsi untuk menampung gas yang dihasilkan oleh digester.
Sumur dibangun dengan menggunakan bahan-bahan yang biasa digunakan untuk
membuat fondasi rumah, seperti pasir, batu bata, dan semen. Karena banyak
dikembangkan di India, maka digester ini disebut juga dengan tipe India.
· Tipe
Kubah (Fixed Dome Digester)
Tipe ini merupakan tipe yang paling banyak
dipakai di Indonesia. Tipe kubah adalah berupa digester yang dibangun dengan
menggali tanah kemudian dibuat dengan bata, pasir, dan semen yang berbentuk
seperti rongga yang kedap udara dan berstruktur seperti kubah (bulatan setengah
bola). Tipe ini dikembangkan di Cina sehingga disebut juga tipe kubah atau tipe
Cina.
Dengan sistem anaerobik-biogas, gas yang
dihasilkan tergantung pada kandungan protein, lemak dan karbohidrat yang
terkandung dalam limbah, lamanya waktu pembusukan minimal 30 hari karena
semakin lama pembusukan semakin sempurna prosesnya, suhu di dalam digester
yaitu 15oC-35oC, kapasitas kedelai minimal untuk dapat menghasilkan biogas
adalah ± 400 kg, untuk produksi tahu dengan kapasitas kedelai 700 kg/hari
dihasilkan tidak kurang dari 10.500 liter gas bio per hari, kebutuhan satu
rumah tangga dengan 4-5 orang anggota ± 1.200 – 2.000 liter gas bio per hari
(KLH, 2006).
Adapun sistem pengolahan biogas meliputi
inlet (masuknya air limbah), bak equalisasi, bak pengendapan, bak Anaerobik
Filter, bak peluapan, bak pengurasan, dan outlet (keluarnya air limbah
yang telah diolah) (KLH, 2006).
Keuntungan atau keunggulan dari sistem
anaerobik-biogas adalah mengurangi potensi kerusakan hutan yaitu mengurangi
penebangan pohon yang digunakan untuk kayu bakar, mencegah erosi tanah, dan
menghemat pemakaian bahan bakar minyak.
Biogas merupakan energi yang ramah lingkungan
dan merupakan cara yang aman untuk menempatkan bahan organik jika dikelola
dengan baik, sehingga meningkatkan sanitasi dan kesehatan lokal. Sisa padatan
dari produksi biogas (lumpur hasil pembangkitan biogas) dapat digunakan untuk
pembuatan pupuk kompos. Ini dapat mengurangi polusi air tanah dan meningkatkan
kualitas udara. Gas metan termasuk gas rumah kaca (greenhouse gas),
bersama dengan gas karbon dioksida CO2 memberikan efek rumah kaca yang
menyebabkan terjadinya fenomena pemanasan global. Pengurangan gas metan secara
lokal ini dapat berperan positif dalam upaya penyelesaian permasalahan global
(efek rumah kaca), sehingga upaya ini dapat diusulkan sebagai bagian dari
program internasional Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development
Mechanism/CDM) (Inforce, 2006).
Untuk biogas ini sistem yang diterapkan harus
dirawat dan dibersihkan secara periodik untuk menghilangkan lumpur (residu
padatan) hasil pembangkitan biogas dan tindakan pencegahan serta keselamatan
untuk sistem pendistribusian gas harus terus diamati.
c. Pengolahan Limbah
Cair Sistem Aerobik
Pada pengolahan air limbah tahu proses
biologi aerobik merupakan proses lanjutan untuk mendegradasi kandungan senyawa
organik air limbah yang masih tersisa setelah proses anaerobik. Sistem
penanganan aerobik digunakan sebagai pencegah timbulnya masalah bau selama
penaganan limbah, agar memenuhi persyaratan effluent dan untuk stabilisasi
limbah sebelum dialirkan ke badan penerima (Jenie dan Rahayu, 1993).
Proses pengolahan limbah aerobik berarti
proses dimana terdapat oksigen terlarut. Oksidasi bahan-bahan organik
menggunakan molekul oksigen sebagai aseptor elektron akhir adalah proses utama
yang menghasilkan energi kimia untuk mikroorganisme dalam proses ini. Mikroba
yang menggunakan oksigen sebagai aseptor elektron akhir adalah mikroorganisme
aerobik (Jenie dan Rahayu, 1993). Pengolahan limbah dengan sistem aerobik yang
banyak dipakai antara lain dengan sistem lumpur aktif, piring biologi berputar
(Rotating Biological Contractor = RBC) dan selokan oksidasi (Oxidation Ditch).
d. Pengolahan Limbah
Sistem Kombinasi Anaerobik-Aerobik
Secara umum proses pengolahan kombinasi ini
dibagi menjadi dua tahap yakni pertama proses penguraian anaerobik dan yang
kedua proses pengolahan lanjut dengan sistem biofilter anaerobik-aerobik.
· Penguraian
anaerobik.
Limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan
tahu dikumpulkan melalui saluran limbah, kemudian dialirkan ke bak kontrol
untuk memisahkan buangan padat. Selanjutnya limbah dialirkan ke bak pengurai
anaerobik. Di dalam bak pengurai anaerobik tersebut pencemar organik yang ada
dalam limbah akan diuraikan oleh mikroorganisme secara anaerobik, menghasilkan
gas hidrogen sulfida dan metana yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Pada
proses tahap pertama efisiensi penurunan nilai COD dalam limbah dapat mencapai
80-90%. Air olahan tahap awal ini selanjutnya diolah dengan proses pengolahan
lanjut dengan sistem kombinsi anaerobik-aerobik dengan menggunakan biofilter
(Herlambang, 2002).
· Proses
pengolahan lanjut.
Proses pengolahan limbah dengan proses
biofilter anaerobik-aerobik terdiri dari beberapa bagian yakni bak pengendap
awal, biofilter anaerobik, biofilter aerobik, bak pengendap akhir, dan jika
perlu dilengkapi dengan bak klorinasi. Limbah yang berasal dari proses
penguraian anaerobik (pengolahan tahap pertama) dialirkan ke bak pengendap
awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran lainnva. Selain
sebagai bak pengendapan, juga berfungsi sebagai bak pengontrol aliran, serta
bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan, pengurai lumpur dan
penampung lumpur (Herlambang, 2002).
Air limpasan dari bak pengendap awal
selanjutnya dialirkan ke bak anaerobik dengan arah aliran dari atas ke bawah
(down flow) dan dari bawah ke atas (up flow). Di dalam bak anaerobik tersebut
diisi dengan media dari bahan plastik atau kerikil dan batu pecah. Jumlah bak
anaerobik ini bisa dibuat lebih dari satu sesuai dengan kualitas dan jumlah air
baku yang akan diolah. Penguraian zat-zat organik yang ada dalam limbah
dilakukan oleh bakteri anaerobik. Setelah beberapa hari, pada permukaan media
filter akan tumbuh lapisan film mikroorganisme. Mikroorganisme inilah yang akan
menguraikan zat organik yang belum sempat terurai pada bak pengendap awal. Air
limpasan dari bak anaerobik dialirkan ke bak aerobik. Di dalam bak aerobik ini
dapat diisi dengan media dari bahan kerikil atau plastik atau batu apung atau
bahan serat sesuai dengan kebutuhan atau dana yang tersedia, sambil diaerasi
atau dihembus dengan udara, sehingga mikroorganisme yang ada akan menguraikan
zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada permukaan
media. Dengan demikian limbah akan kontak dengan mikroorganisme yang,
tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan media (Herlambang,
2002).
Dari proses tersebut efisiensi penguraian zat
organik dan deterjen dapat ditingkatkan serta mempercepat proses nitrifikasi,
sehingga efisiensi penghilangan amonia menjadi lebih besar. Proses ini sering
dinamakan aerasi kontak (contact aeration). Dari bak aerasi, limbah dialirkan
ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini kembali ke bagian awal bak aerasi
dengan pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan dialirkan ke bak
klorinasi (Herlambang, 2002).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar