BAB 1
JENIS JENIS MAINTENANCE
1.1
Planning Maintenance
Planned maintenance (pemeliharaan
terencana) adalah pemeliharaan yang terorganisir dan dilakukan dengan pemikiran
ke masa depan, pengendalian dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah
ditentukan sebelumnya. Oleh Karena itu program maintenance yang akan dilakukan
harus dinamis dan memerlukan pengawasan dan pengendalian secara aktif dari
bagian maintenance melalui informasi dari catatan riwayat mesin / peralatan.
Konsep planned maintenance ditujukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi
dengan pelaksanaan kegiatan maintemance. Komunikasi dapat diperbaiki dengan
informasi yang dapat memberi data yang lengkap untuk mengambil keputusan.
Adapun data yang penting dalam kegiatan maintenance antara lain laporan
permintaan pemeliharaan, laporan pemeriksaan, laporan perbaikan dan lain –
lain. Pemeliharaan terencana (planned maintenance) terdiri dari tiga bentuk
pelaksanaan, yaitu: (Stephen, 2004 : 15)
A.Terjadwal
Untuk
menjalankan program produksi dengan gangguan minimum, maka waktu untuk
pekerjaan perawatan perlu direncanakan sebaik mungkin. Waktu pekerjaan
perawatan ditentukan atas kondisi berikut:
• Kapan aktivitas produksi dihentikan karena adanya kebutuhan
perawatan.
• Kapan pabrik tidak beroperasi karena jadwal waktu atau jam
kerja yang sudah.
Penentuan jam operasi pabrik tergantung besar kecilnya
industri, jenis dan tingkat produksi. Tabel 1. memperlihatkan berbagai sistem
penggantian waktu kerja di industri, sehingga bisa ditentukan waktu yang
tersedia untuk melakukan pekerjaan perawatan pada saat pabrik tidak beroperasi.
Perencanaan Perawatan
Urutan
perencanaan fungsi perawatan meliputi :
a.
Bentuk perawatan yang akan ditentukan.
b.
Pengorganisasian pekerjaan perawatan yang akan dilaksanakan dengan pertimbangan
ke masa depan.
c.
Pengontrolan dan pencatatan
B. Timeline
Yaitu kemampuan untuk menampilkan suatu perjalanan waktu
suatu informasi dalam bentuk grafik yang indah. Maksudnya
adalah suatu perjalanan waktu dalam melakukan perawatan tiap bulan nya selama
satu tahun.
C.
Strategi
Pemilihan
program perawatan akan mempengaruhi kelangsungan produktivitas produksi pabrik.
Karena itu perlu dipertimbangkan secara cermat mengenai bentuk perawatan yang
akan digunakan terutama berkaitan dengan kebutuhan produksi, waktu, biaya,
keterandalan tenaga perawatan dan kondisi peralatan yang dikerjakan.
Dalam menentukan strategi perawatan, banyak ditemui
kesulitan-kesulitan diantaranya:
• Tenaga kerja yang terampil
• Ahli teknik yang berpengalaman
• Instrumentasi yang cukup mendukung
• Kerja sama yang baik diantara bagian perawatan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi perawatan:
• Umur peralatan/mesin produksi
• Tingkat kapasitas pemakaian mesin
• Kesiapan suku cadang
• Kemampuan bagian perawatan untuk bekerja cepat
•
Situasi pasar, kesiapan dana dan lain-lain.
1.2 Unplaned
maintenance (Pemeliharaan Tak Terencana)
Unplanned Maintenance biasanya berupa breakdown / emergency maintenance. Breakdown /
emergency maintenance (pemeliharaan darurat) adalah tindakan maintenance yang
tidak dilakukan pada mesin / peralatan yang masih dapat beroperasi, sampai
mesin / peralatan tersebut rusak dan tidak dapat berfungsi lagi. Melalui bentuk
pelaksanaan pemeliharaan tak terencana ini, diharapkan penerapan pemeliharaan
tersebut akan dapat memperpanjang umur dari mesin / perlatan dan dapat
memeprkecil frekuensi kerusakan.
BAB 2
Bentuk - Bentuk Maintenance
2.1 Preventive Maintenance
Preventive Maintenance atau kadang disebut
juga Preventative Maintenance adalah jenis Maintenance yang dilakukan untuk
mencegah terjadinya kerusakan pada mesin selama operasi berlangsung. Contoh
Preventive maintenance adalah melakukan penjadwalan untuk pengecekan
(inspection) dan pembersihan (cleaning) atau pergantian suku cadang secara
rutin dan berkala. Preventive Maintenace terdiri dua jenis, yakni :
a. Periodic Maintenance
(Perawatan berkala)
Periodic Maintenance ini diantaranya
adalah perawatan berkala yang terjadwal dalam melakukan pembersihan mesin,
Inspeksi mesin, meminyaki mesin dan juga pergantian suku cadang yang terjadwal
untuk mencegah terjadi kerusakan mesin secara mendadak yang dapat menganggu
kelancaran produksi. Periodic Maintenance biasanya dilakukan dalam harian,
mingguan, bulanan ataupun tahunan.
b. Predictive Maintenance
(Perawatan Prediktif)
Predictive Maintenance adalah perawatan yang dilakukan untuk mengantisipasi kegagalan sebelum terjadi kerusakan total. Predictive Maintenance ini akan memprediksi kapan akan terjadinya kerusakan pada komponen tertentu pada mesin dengan cara melakukan analisa trend perilaku mesin/peralatan kerja. Berbeda dengan Periodic maintenance yang dilakukan berdasarkan waktu (Time Based), Predictive Maintenance lebih menitikberatkan pada Kondisi Mesin (Condition Based).
Predictive Maintenance adalah perawatan yang dilakukan untuk mengantisipasi kegagalan sebelum terjadi kerusakan total. Predictive Maintenance ini akan memprediksi kapan akan terjadinya kerusakan pada komponen tertentu pada mesin dengan cara melakukan analisa trend perilaku mesin/peralatan kerja. Berbeda dengan Periodic maintenance yang dilakukan berdasarkan waktu (Time Based), Predictive Maintenance lebih menitikberatkan pada Kondisi Mesin (Condition Based).
2.2 Corective
Maintenance (Perawatan Korektif)
Perawatan korektif (Corrective Maintenance) merupakan kegiatan
perawatan yang dilakukan untuk mengatasi kegagalan atau kerusakan yang
ditemukan selama masa waktu preventive maintenance. Pada
umumnya, Perawatan korektif bukanlah
aktivitas perawatan yang terjadwal, karena dilakukan setelah sebuah komponen
mengalami kerusakan dan bertujuan untuk mengembalikan kehandalan sebuah
komponen atau sistem ke kondisi semula
.Perawatan
korektif (Corrective maintenance)
dikenal sebagai breakdown ataurun to
failure maintenance. Pemeliharaan hanya dilakukan setelah peralatan
atau mesin rusak. Bila strategi pemeliharaan ini digunakan sebagai strategi
utama akan menimbulkan dampak tingginya kegiatan pemeliharaan yang tidak
direncanakan dan inventori part pengganti.
Perawatan korektif (Corrective Maintenance) adalah tindakan perawatan
yang dilakukan untuk mengatasi kerusakan-kerusakan atau kemacetan yang terjadi
berulang kali. Prosedur ini diterapkan pada peralatan atau mesin yang
sewaktu-waktu dapat rusak. Dalam kaitan ini perlu dipelajari
penyebabnya-penyebabnya, perbaikan apa yang dapat dilakukan, dan bagaimanakah tindakan
selanjutnya untuk mencegah agar kerusakan tidak terulang lagi. Pada
umumnya usaha untuk mengatasi kerusakan itu dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.
Merubah
proses
2.
Merancang
kembali komponen yang gagal
3.
Mengganti
dengan komponen baru atau yang lebih baik
4.
Meningkatkan prosedur perawatan preventif. Sebagai contoh, melakukan
pelumasan sesuai ketentuannya atau mengatur kembali frekuensi dan isi daripada
pekerjaan inspeksi
5.
Meninjau kembali dan merubah sistem pengoperasian mesin. Misalnya dengan
merubah beban unit, atau melatih operator dengan sistem operasi yang lebih
baik, terutama pada unit-unit khusus.
Perawatan korektif tidak dapat
menghilangkan semua kerusakan, karena bagaimanapun juga suatu alat atau
mesin-mesin yang dipakai lambat laun akan rusak. Namun demikian, dengan adanya
tindakan perbaikan yang memadai akan dapat membatasi terjadinya kerusakan. Dalam
pelaksanaan kerjanya, untuk mengatasi kerusakan dan mengambil tindakan korektif
yang diperlukan adalah tanggung jawab bersama dari bagian teknik, produksi dan
perawatan. Secara umum, pengelolaan dan pengkoordinasian untuk penerapan
program perawatan preventif adalah tanggung jawab manajer teknik dan perawatan
2.3 Prediktif Maintenance (Perawatan Prediktif)
Predictive
maintenance adalah salah satu metode pemeliharaan yang didasarkan pada kondisi
equipment yang sedang dicheck. Predictive maintenance membutuhkan bantuan
alat-alat presisi seperti Vibration Analyzer, Oil Analysis, Ultrasonic, dll.
Dengan memakai Vibration Analyzer, kita misalnya bisa mengetahui gejala
kerusakan pada bearing, looseness, unbalance pada kondisi yang paling dini,
sehingga kita bisa melakukan persiapan untuk shutdwon dengan lebih terencana.
Pembelian atau pembuatan spare parts, manpower, tools dapat dipersiapkan lebih
awal sehingga kalaupun kita melakukan shutdwon akan membutuhkan waktu dan biaya
yang jauh lebih sedikit.
2.4 Breakdown Maintenance
Perawatan kerusakan
dapat diartikan sebagai kebijakan perawatan dengan cara mesin/peralatan
dioperasikan hingga rusak, kemudian baru diperbaiki atau diganti. Kebijakan ini
merupakan strategi yang kasar dan kurang baik karena dapat menimbulkan biaya
tinggi, kehilangan kesempatan untuk mengambil keuntungan bagi perusahaan karena
diakibatkan terhentinya mesin, keselamatan kerja tidak terjamin, kondisi mesin
tidak diketahui, dan tidak ada perencanaan waktu, tenaga kerja, maupun biaya
yang baik.
Keuntungan dari kebijakan perawatan kerusakan:
• Murah dan tidak perlu melakukan perawatan.
• Cocok untuk mesin/peralatan yang murah dan
sederhana, dan atau modular.
Adapun kerugiannya adalah:
• Kasar dan berbahaya.
• Menimbulkan kerugian besar bila ditetapkan pada mesin yang mahal,
kompleks, dan dituntut tingkat keselamatan tinggi.
• Tidak bisa menyiapkan sumber daya
manusia.
2.5 Emergency
Maintenance ( Perawatan Darurat )
Adalah pekerjaan perbaikan yang harus segera dilakukan karena
terjadi kemacetan atau kerusakan yang tidak terduga. Adapun pengertian lain dari
emergency maintenance adalah
pemeliharaan yang dilakukan apabila mesin mati sama sekali karena terjadinya
kerusakan atau kelainan yang menyebabkan mesin tidak dapat dioperasikan.
Perawatan ini tidak direncanakan sebelumnya dan perbaikannya dilaksanakan untuk
mencegah terjadinya akibat yang lebih serius. Contoh : korosi.
BAB
3
ISTILAH-ISTILAH
DALAM MAINTENANCE
3.1 Downtime
Downtime, adalah waktu yang dijadwalkan dalam
jangka tertentu sebuah mesin harus berhenti beroperasi. Waktu shut down atau
downtime sangat penting, bahkan bagi mesin sekalipun. Biasanya waktu shut down
ini digunakan untuk maintenance, pengecekan kembali part- part yang ada dalam
mesin tersebut, memberikan pelumas, memeriksa sambungan pipa, memastikan tidak
ada kebocoran, dan berbagai tindakan preventif lainnya.
Apa
akibatnya jika kita melewatkan waktu shut down ini? Mesin akan bekerja
terus-menerus non stop, hingga waktu tertentu mesin tersebut akan terlalu panas
karena gesekan-gesekan akibat pergerakan mesin. Dan bisa dipastikan mesin yang
beroperasi tanpa jeda, tanpa melalui shut down, umurnya tidak akan lebih lama
dibandingkan dengan mesin yang secara rutin menjalani shut down. Mesin yang
panas akan berhenti beroperasi, mati, atau bahkan bisa menjadi rusak, tidak
bisa dipakai lagi.
3.2 Downline
Adalah orang yang kita rekrut/daftarkan untuk
dijadikan Bawahan kita untuk bersama-sama menjaga, memelihara dan merawat
mesin pada industry, misalnya operator yang bekerja dibidang atau divisi
maintenance
3.3 Availability
Availability adalah ketersediaan suatu
item untuk bekerja secara normal saat operasional. Untuk penghitungan
availability, Preventive Maintenance dan Predictive Maintenance dimasukkan
dalam perhitungan ini. Karena availability itu berkaitan dengan efisiensi
aktivitas maintenance pada suatu unit yang berdasarkan downtime yang terencana.

Diantara Reliability dan Availability dapat
kita rata-ratakan dengan istilah MTBF (Mean Time Between Failure)

3.4 Reliability
Reliability adalah probabilitas suatu item
untuk bekerja secara normal pada saat operasional. Reliability dapat dihitung
dengan membandingkan running hours per tahun dengan jumlah jam breakdown dalam
setahun. Untuk sebuah unit yang kritikal dan unit tersebut tidak mempunyai
cadangan maka realibility dihitung sebagai berikut.

Pada kasus tertentu dimana sebuah unit dengan sistem
redundansi (cadangan) maka reliability tidak selalu dihitung hingga unit cadang
tersebut tersedia atau beroperasi. Reliability pada kasus tersebut dapat
dihitung dengan.Noted : waktu downtime saat melakukan
Preventive Maintenance dan Predictive Maintenance tidak dihitug dalam
perhitungan diatas.
3.5 Maintainability
Maintainability adalah probabilitas pada perawatan suatu
item untuk dikembalikan kepada kondisi awal operasional. Aktivitas perawatan
tersebut termasuk PM dan PDM atau CM, perhitungan ini membandingkan total jam
perbaikan dengan jumlah even yang dilakukan oleh departemen perawatan. Dengan
mengetahui maintainability suatu peralatan maka kita dapat menganalisa
efisiensi waktu shutdown suatu unit untuk aktivitas perawatan. Semakin kecil
perbandingannya maka nilai availability akan semakin besar karena planned downtime
berjalan efisien. Maintainability dapat disebut juga MTTR (Mean Time To Repair)
Tiga komponen tersebut saling
berkaitan sekaligus menjadi buah simalakama bagi orang perawatan karena jika
perawatan suatu unit lebih menitik beratkan bpada MTTR bisa jadi perawatan akan
tidak sempurna dan mengakibatkan reliability pada
unit tersebut turun. Maka kita harus menyeimbangkan tiga aspek tersebut
bagaimana aktifitas perawatan dapat berjalan efisien dan optimal.
Tiga komponen tersebut saling
berkaitan sekaligus menjadi buah simalakama bagi orang perawatan karena jika
perawatan suatu unit lebih menitik beratkan bpada MTTR bisa jadi perawatan akan
tidak sempurna dan mengakibatkan reliability pada
unit tersebut turun. Maka kita harus menyeimbangkan tiga aspek tersebut
bagaimana aktifitas perawatan dapat berjalan efisien dan optimal.
3.6 Schedule
Proses pembuatan schedule preventive maintenece berawal
dari pengumpulan data-data equipment yang akan dilakukan perawatan, Data
tersebut dikumpulkan oleh setiap departement untuk dimasukan ke daftar
unit equipment,yang selanjutnya akan dibuatkan number equipment yang
dilakukan oleh pihak engineering, dari data tersebut team dari engineering
akan mempelajari lebih dalam tentang equipment atau mesin melalui manual
book yang ada disetiap equipment. Dari hasil pembelajaran yang
dilakukan maka akan dibuatkan SOP standar operasional prosedur atau
dengan kata lain WI (work intuction).
Berdasarkan WI tersebut maka pihak dari enggineering
akan membuatkan sebuah tastlish kerja preventive yang
selanjutnya tastlist tersebut dijadikan dasar dalam pengerjaan Preventive
maintenance.Setelah semua data equipment/mesin terkumpul, dan telah
diberikan nomber Equipment, maka pihak dari engineering tepatnya Admin
enngineering, akan membuatkan master schedule dari master
schedule tersebut akan
dikeluarkan
schedule kerja preventive yang diedarkan setiap bulannya Schedule
preventive tersebut berisikan PM mingguan, PM bulanan, PM tiga bulanan, PM
enam bulanan, PM tahunan, PM Dua tahunan. Setelah dibuatkan schedule maka
akan dimintakan persetujuan dari setiap head departement berupa approval.Setelah
semua pihak menyetujui maka schedule tersebut akan diberikan keteknisi,
untuk mengeksekusi pekerjaan terhadap schedul tersebut dan supervesor
engineering untuk
memonitor
kerja.
3.7 Cost
Adalah Pengertian/Definisi dari Biaya Perawatan
(Maintenance Expenses) yaitu Biaya yang harus dikeluarkan untuk memelihara
fixed assets (aktiva tetap) agar tetap
dalam keadaan baik dari waktu kewaktu, sehingga dapat dipakai bila diperlukan.
Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk perawatan fixed assets (aktiva tetap) secara
langsung tidak menaikkan nilai fixed assets (aktiva tetap) yang bersangkutan.
Sebab itu seluruh pengeluaran untuk perawatan fixed assets (aktiva tetap) ini
dibukukan pada perkiraan Biaya Perawatan (Maintenance Expenses).
BAB
4
SASARAN
MAINTENANCE
4.1 Sasaran
Perencanaan Perawatan
Sasaran perencanaan perawatan :
• Bagian khusus dari pabrik
dan fasilitas yang akan dirawat.
• Bentuk, metode dan bagaimana
tiap bagian itu dirawat.
• Alat perkakas dan cara
penggantian suku cadang.
• Waktu yang dibutuhkan untuk
melakukan perawatan.
• Frekwensi perawatan yang
perlu dilakukan.
• Sistem Pengelolaan
pekerjaan.
• Metode untuk menganalisis
pekerjaan.
Dasar-dasar pokok yang
menunjang dalam pembentukan sistem perawatan:
• Jadwal kegiatan perawatan
untuk semua fasilitas pabrik.
• Jadwal kegiatan
perawatan lengkap untuk masing-masing tugas yang harus dilakukan pada tiap
bagian.
• Program yang menunjukkan
kapan tiap tugas harus dilakukan.
• Metode yang menjamin program
perawatan dapat berhasil.
• Metode pencatatan hasil dan
penilaian keberhasilan program perawatan.
4.2 Faktor-Faktor Eksternal
· Manufacturer
recommendations
Sparepart pabrikan dari equipment yang kita
miliki, mengharuskan kita untuk selalu menggunakan jenis / merk tertentu untuk
memastikan equipment dapat berjalan dengan lancar.
· Legal requirements
Adanya Hukum / Aturan
perlindungan tenaga kerja yang berhubungan dengan keselamatan kerja, misal HSE
/ K3S. Sehingga membutuhkan alat safety tertentu untuk memastikan keselamatan
bekerja pada karyawan ketika bekerja untuk memperbaiki equipment tertentu
· Environmental
requirements
Adanya upaya
pencegahan kerusakan alam yang bisa jadi disebabkan oleh equipment, sehingga di
butuhkan perawatkan extra agar mencegah terjadinya kerusakan alam.
· Quality Assurance
Kualitas dari produksi
manufaktur juga bergantung pada kualitas mesin itu sendiri. Jika ada suatu
aturan yang mengatur kualitas suatu produk untuk layak tidaknya digunakan oleh
konsumen, maka untuk menjaga kualitas dari produksi, kualitas dari mesin pun
harus dijaga dari kerusakan yang dapat berdampak pada hasil produksi.
4.3 Faktor-Faktor Internal
a. Ruang lingkup pekerjaan.
Untuk tindakan yang tepat, pekerjaan yang dilakukan
perlu diberi petunjuk atau pengarahan yang lengkap dan jelas. Pengadaan
gambar-gambar atau skema dapat membantu dalam melakukan pekerjaan.
b. Lokasi pekerjaan.
Lokasi pekerjaan yang tepat dimana tugas dilakukan,
merupakan informasi yang mempercepat pelaksanaan pekerjaan. Penunjukan lokasi
akan mudah dengan memberi kode tertentu, misalnya nomor gedung, nomor
departemen dllsb.
c. Prioritas pekerjaan.
Prioritas pekerjaan harus dikontrol sehingga pekerjaan
dilakukan sesuai dengan urutan yang benar. Jika suatu mesin mempunyai peranan
penting, maka perlu memberi mesin tersebut prioritas utama.
d. Metode yang digunakan.
“Membeli kemudian memasang” sangat berbeda artinya
dengan “membuat kemudian memasang”. Meskipun banyak pekerjaan bisa dilakukan
dengan berbagai cara, namun akan lebih baik jika penyelesaian pekerjaan
tersebut dilakukan dengan metode yang sesuai dengan keahlian yang dipunyai.
e. Kebutuhan material.
Apabila ruang lingkup dan metode kerja yang digunakan
telah ditentukan, maka biasa diikuti dengan adanya kebutuhan material. Material
yang dibutuhkan ini harus selalu tersedia.
f. Kebutuhan alat perkakas.
Sebaiknya alat yang khusus perlu diberi tanda pengenal
agar mudah penyediaannya bila akan digunakan. Kunci momen, dongkrak adalah
termasuk alat-alat khusus yang perlu ditentukan kebutuhannya.
g. Kebutuhan keahlian.
Keahlian
yang dimiliki seorang pekerja akan memudahkan dia bekerja.
h. Kebutuhan tenaga kerja.
Jumlah
tenaga kerja yang dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan harus ditentukan untuk
setiap jenis keahlian. Hal ini berguna dalam ketetapan pengawasannya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar