Jumat, 03 Mei 2019

Teknik Perawatan Mesin ( Jenis-Jenis Maintenance, Bentuk-Bentuk Maintenance, Istilah-Istilah Dalam Maintenance dan Sasaran Maintenance)


BAB 1
JENIS JENIS MAINTENANCE

1.1              Planning Maintenance
Planned maintenance (pemeliharaan terencana) adalah pemeliharaan yang terorganisir dan dilakukan dengan pemikiran ke masa depan, pengendalian dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh Karena itu program maintenance yang akan dilakukan harus dinamis dan memerlukan pengawasan dan pengendalian secara aktif dari bagian maintenance melalui informasi dari catatan riwayat mesin / peralatan. Konsep planned maintenance ditujukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dengan pelaksanaan kegiatan maintemance. Komunikasi dapat diperbaiki dengan informasi yang dapat memberi data yang lengkap untuk mengambil keputusan. Adapun data yang penting dalam kegiatan maintenance antara lain laporan permintaan pemeliharaan, laporan pemeriksaan, laporan perbaikan dan lain – lain. Pemeliharaan terencana (planned maintenance) terdiri dari tiga bentuk pelaksanaan, yaitu: (Stephen, 2004 : 15) 

                      A.Terjadwal
Untuk menjalankan program produksi dengan gangguan minimum, maka waktu untuk pekerjaan perawatan perlu direncanakan sebaik mungkin. Waktu pekerjaan perawatan ditentukan atas kondisi berikut:
• Kapan aktivitas produksi dihentikan karena adanya kebutuhan perawatan.
• Kapan pabrik tidak beroperasi karena jadwal waktu atau jam kerja yang sudah.
Penentuan jam operasi pabrik tergantung besar kecilnya industri, jenis dan tingkat produksi. Tabel 1. memperlihatkan berbagai sistem penggantian waktu kerja di industri, sehingga bisa ditentukan waktu yang tersedia untuk melakukan pekerjaan perawatan pada saat pabrik tidak beroperasi. Perencanaan Perawatan
Urutan perencanaan fungsi perawatan meliputi :
a. Bentuk perawatan yang akan ditentukan.
b. Pengorganisasian pekerjaan perawatan yang akan dilaksanakan dengan pertimbangan ke masa depan.
            c. Pengontrolan dan pencatatan

 B.   Timeline
Yaitu kemampuan untuk menampilkan suatu perjalanan waktu suatu informasi dalam bentuk grafik yang indah. Maksudnya adalah suatu perjalanan waktu dalam melakukan perawatan tiap bulan nya selama satu tahun.

            C.       Strategi
Pemilihan program perawatan akan mempengaruhi kelangsungan produktivitas produksi pabrik. Karena itu perlu dipertimbangkan secara cermat mengenai bentuk perawatan yang akan digunakan terutama berkaitan dengan kebutuhan produksi, waktu, biaya, keterandalan tenaga perawatan dan kondisi peralatan yang dikerjakan.
Dalam menentukan strategi perawatan, banyak ditemui kesulitan-kesulitan diantaranya:
• Tenaga kerja yang terampil
• Ahli teknik yang berpengalaman
• Instrumentasi yang cukup mendukung
• Kerja sama yang baik diantara bagian perawatan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi perawatan:
• Umur peralatan/mesin produksi
• Tingkat kapasitas pemakaian mesin
• Kesiapan suku cadang
• Kemampuan bagian perawatan untuk bekerja cepat
• Situasi pasar, kesiapan dana dan lain-lain.

1.2       Unplaned maintenance (Pemeliharaan Tak Terencana) 
Unplanned Maintenance biasanya berupa breakdown / emergency maintenance. Breakdown / emergency maintenance (pemeliharaan darurat) adalah tindakan maintenance yang tidak dilakukan pada mesin / peralatan yang masih dapat beroperasi, sampai mesin / peralatan tersebut rusak dan tidak dapat berfungsi lagi. Melalui bentuk pelaksanaan pemeliharaan tak terencana ini, diharapkan penerapan pemeliharaan tersebut akan dapat memperpanjang umur dari mesin / perlatan dan dapat memeprkecil frekuensi kerusakan. 

BAB 2
Bentuk - Bentuk Maintenance

2.1       Preventive Maintenance
Preventive Maintenance atau kadang disebut juga Preventative Maintenance adalah jenis Maintenance yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada mesin selama operasi berlangsung. Contoh Preventive maintenance adalah melakukan penjadwalan untuk pengecekan (inspection) dan pembersihan (cleaning) atau pergantian suku cadang secara rutin dan berkala. Preventive Maintenace terdiri dua jenis, yakni :

 a. Periodic Maintenance (Perawatan berkala)
     Periodic Maintenance ini diantaranya adalah perawatan berkala yang terjadwal dalam       melakukan pembersihan mesin, Inspeksi mesin, meminyaki mesin dan juga pergantian suku cadang yang terjadwal untuk mencegah terjadi kerusakan mesin secara mendadak yang dapat menganggu kelancaran produksi. Periodic Maintenance biasanya dilakukan dalam harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan.

b. Predictive Maintenance (Perawatan Prediktif)
    Predictive Maintenance adalah perawatan yang dilakukan untuk mengantisipasi kegagalan sebelum terjadi kerusakan total. Predictive Maintenance ini akan memprediksi kapan akan terjadinya kerusakan pada komponen tertentu pada mesin dengan cara melakukan analisa trend perilaku mesin/peralatan kerja. Berbeda dengan Periodic maintenance yang dilakukan berdasarkan waktu (Time Based), Predictive Maintenance lebih menitikberatkan pada Kondisi Mesin (Condition Based).

2.2       Corective Maintenance (Perawatan Korektif)
Perawatan korektif (Corrective Maintenance) merupakan kegiatan perawatan yang dilakukan untuk mengatasi kegagalan atau kerusakan yang ditemukan selama masa waktu preventive maintenance. Pada umumnya, Perawatan korektif  bukanlah aktivitas perawatan yang terjadwal, karena dilakukan setelah sebuah komponen mengalami kerusakan dan bertujuan untuk mengembalikan kehandalan sebuah komponen atau sistem ke kondisi semula
.Perawatan korektif (Corrective maintenance) dikenal sebagai breakdown ataurun to failure maintenance. Pemeliharaan hanya dilakukan setelah peralatan atau mesin rusak. Bila strategi pemeliharaan ini digunakan sebagai strategi utama akan menimbulkan dampak tingginya kegiatan pemeliharaan yang tidak direncanakan dan inventori part pengganti.
Perawatan korektif (Corrective Maintenance) adalah  tindakan perawatan yang dilakukan untuk mengatasi kerusakan-kerusakan atau kemacetan yang terjadi berulang kali. Prosedur ini diterapkan pada peralatan atau mesin yang sewaktu-waktu dapat rusak. Dalam kaitan ini perlu dipelajari penyebabnya-penyebabnya, perbaikan apa yang dapat dilakukan, dan bagaimanakah tindakan selanjutnya untuk mencegah agar kerusakan tidak terulang lagi. Pada umumnya usaha untuk mengatasi kerusakan itu dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.    Merubah proses
2.    Merancang kembali komponen yang gagal
3.    Mengganti dengan komponen baru atau yang lebih baik
4.    Meningkatkan prosedur perawatan preventif. Sebagai contoh, melakukan pelumasan sesuai ketentuannya atau mengatur kembali frekuensi dan isi daripada pekerjaan inspeksi
5.    Meninjau kembali dan merubah sistem pengoperasian mesin. Misalnya dengan merubah beban unit, atau melatih operator dengan sistem operasi yang lebih baik, terutama pada unit-unit khusus.
Perawatan korektif tidak dapat menghilangkan semua kerusakan, karena bagaimanapun juga suatu alat atau mesin-mesin yang dipakai lambat laun akan rusak. Namun demikian, dengan adanya tindakan perbaikan yang memadai akan dapat membatasi terjadinya kerusakan. Dalam pelaksanaan kerjanya, untuk mengatasi kerusakan dan mengambil tindakan korektif yang diperlukan adalah tanggung jawab bersama dari bagian teknik, produksi dan perawatan. Secara umum, pengelolaan dan pengkoordinasian untuk penerapan program perawatan preventif adalah tanggung jawab manajer teknik dan perawatan

2.3  Prediktif Maintenance (Perawatan Prediktif)
Predictive maintenance adalah salah satu metode pemeliharaan yang didasarkan pada kondisi equipment yang sedang dicheck. Predictive maintenance membutuhkan bantuan alat-alat presisi seperti Vibration Analyzer, Oil Analysis, Ultrasonic, dll. Dengan memakai Vibration Analyzer, kita misalnya bisa mengetahui gejala kerusakan pada bearing, looseness, unbalance pada kondisi yang paling dini, sehingga kita bisa melakukan persiapan untuk shutdwon dengan lebih terencana. Pembelian atau pembuatan spare parts, manpower, tools dapat dipersiapkan lebih awal sehingga kalaupun kita melakukan shutdwon akan membutuhkan waktu dan biaya yang jauh lebih sedikit.

2.4       Breakdown Maintenance
Perawatan kerusakan dapat diartikan sebagai kebijakan perawatan dengan cara mesin/peralatan dioperasikan hingga rusak, kemudian baru diperbaiki atau diganti. Kebijakan ini merupakan strategi yang kasar dan kurang baik karena dapat menimbulkan biaya tinggi, kehilangan kesempatan untuk mengambil keuntungan bagi perusahaan karena diakibatkan terhentinya mesin, keselamatan kerja tidak terjamin, kondisi mesin tidak diketahui, dan tidak ada perencanaan waktu, tenaga kerja, maupun biaya yang baik.
Keuntungan dari kebijakan perawatan kerusakan:
• Murah dan tidak perlu melakukan perawatan.
• Cocok untuk mesin/peralatan yang murah dan sederhana, dan atau modular.
Adapun kerugiannya adalah:
• Kasar dan berbahaya.
• Menimbulkan kerugian besar bila ditetapkan pada mesin yang mahal, kompleks, dan dituntut tingkat keselamatan tinggi.
• Tidak bisa menyiapkan sumber daya manusia.

2.5       Emergency Maintenance ( Perawatan Darurat )
Adalah pekerjaan perbaikan yang harus segera dilakukan karena terjadi kemacetan atau kerusakan yang tidak terduga. Adapun pengertian lain dari emergency maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan apabila mesin mati sama sekali karena terjadinya kerusakan atau kelainan yang menyebabkan mesin tidak dapat dioperasikan. Perawatan ini tidak direncanakan sebelumnya dan perbaikannya dilaksanakan untuk mencegah terjadinya akibat yang lebih serius. Contoh : korosi.


BAB 3
ISTILAH-ISTILAH DALAM MAINTENANCE

3.1 Downtime
      Downtime, adalah waktu yang dijadwalkan dalam jangka tertentu sebuah mesin harus berhenti beroperasi. Waktu shut down atau downtime sangat penting, bahkan bagi mesin sekalipun. Biasanya waktu shut down ini digunakan untuk maintenance, pengecekan kembali part- part yang ada dalam mesin tersebut, memberikan pelumas, memeriksa sambungan pipa, memastikan tidak ada kebocoran, dan berbagai tindakan preventif lainnya. 
      Apa akibatnya jika kita melewatkan waktu shut down ini? Mesin akan bekerja terus-menerus non stop, hingga waktu tertentu mesin tersebut akan terlalu panas karena gesekan-gesekan akibat pergerakan mesin. Dan bisa dipastikan mesin yang beroperasi tanpa jeda, tanpa melalui shut down, umurnya tidak akan lebih lama dibandingkan dengan mesin yang secara rutin menjalani shut down. Mesin yang panas akan berhenti beroperasi, mati, atau bahkan bisa menjadi rusak, tidak bisa dipakai lagi.

3.2       Downline
Adalah orang yang kita rekrut/daftarkan untuk dijadikan Bawahan kita untuk bersama-sama menjaga, memelihara dan merawat mesin pada industry, misalnya operator yang bekerja dibidang atau divisi maintenance

3.3      Availability
Availability adalah  ketersediaan suatu item untuk bekerja secara normal saat operasional. Untuk penghitungan availability, Preventive Maintenance dan Predictive Maintenance dimasukkan dalam perhitungan ini. Karena availability itu berkaitan dengan efisiensi aktivitas maintenance pada suatu unit yang berdasarkan downtime yang terencana.
https://i1.wp.com/berbagienergi.com/wp-content/uploads/2015/09/093015_0502_TigaKompone3.png
Diantara Reliability dan Availability dapat kita rata-ratakan dengan istilah MTBF (Mean Time Between Failure)https://i1.wp.com/berbagienergi.com/wp-content/uploads/2015/09/093015_0502_TigaKompone4.png

3.4       Reliability
Reliability adalah probabilitas suatu item untuk bekerja secara normal pada saat operasional. Reliability dapat dihitung dengan membandingkan running hours per tahun dengan jumlah jam breakdown dalam setahun. Untuk sebuah unit yang kritikal dan unit tersebut tidak mempunyai cadangan maka realibility dihitung sebagai berikut.
https://i2.wp.com/berbagienergi.com/wp-content/uploads/2015/09/093015_0502_TigaKompone1.png
Pada kasus tertentu dimana sebuah unit dengan sistem redundansi (cadangan) maka reliability tidak selalu dihitung hingga unit cadang tersebut tersedia atau beroperasi. Reliability pada kasus tersebut dapat 
https://i2.wp.com/berbagienergi.com/wp-content/uploads/2015/09/093015_0502_TigaKompone2.png



dihitung dengan.Noted : waktu downtime saat melakukan Preventive Maintenance dan Predictive Maintenance tidak dihitug dalam perhitungan diatas.
3.5       Maintainability
Maintainability adalah probabilitas pada perawatan suatu item untuk dikembalikan kepada kondisi awal operasional. Aktivitas perawatan tersebut termasuk PM dan PDM atau CM, perhitungan ini membandingkan total jam perbaikan dengan jumlah even yang dilakukan oleh departemen perawatan. Dengan mengetahui maintainability suatu peralatan maka kita dapat menganalisa efisiensi waktu shutdown suatu unit untuk aktivitas perawatan. Semakin kecil perbandingannya maka nilai availability akan semakin besar karena planned downtime berjalan efisien. Maintainability dapat disebut juga MTTR (Mean Time To Repair)https://i0.wp.com/berbagienergi.com/wp-content/uploads/2015/09/093015_0502_TigaKompone5.pngTiga komponen tersebut saling berkaitan sekaligus menjadi buah simalakama bagi orang perawatan karena jika perawatan suatu unit lebih menitik beratkan bpada MTTR bisa jadi perawatan akan tidak sempurna dan mengakibatkan reliability pada unit tersebut turun. Maka kita harus menyeimbangkan tiga aspek tersebut bagaimana aktifitas perawatan dapat berjalan efisien dan optimal.
3.6       Schedule
Proses pembuatan schedule preventive maintenece berawal dari pengumpulan data-data equipment yang akan dilakukan perawatan, Data tersebut dikumpulkan oleh setiap departement untuk dimasukan ke daftar unit equipment,yang selanjutnya akan dibuatkan number equipment yang dilakukan oleh pihak engineering, dari data tersebut team dari engineering akan mempelajari lebih dalam tentang equipment atau mesin melalui manual book yang ada disetiap equipment. Dari hasil pembelajaran yang dilakukan maka akan dibuatkan SOP standar operasional prosedur atau dengan kata lain WI (work intuction).
Berdasarkan WI tersebut maka pihak dari enggineering akan membuatkan sebuah tastlish kerja preventive yang selanjutnya tastlist tersebut dijadikan dasar dalam pengerjaan Preventive maintenance.Setelah semua data equipment/mesin terkumpul, dan telah diberikan nomber Equipment, maka pihak dari engineering tepatnya Admin enngineering, akan membuatkan master schedule dari master schedule tersebut akan
dikeluarkan schedule kerja preventive yang diedarkan setiap bulannya Schedule preventive tersebut berisikan PM mingguan, PM bulanan, PM tiga bulanan, PM enam bulanan, PM tahunan, PM Dua tahunan. Setelah dibuatkan schedule maka akan dimintakan persetujuan dari setiap head departement berupa approval.Setelah semua pihak menyetujui maka schedule tersebut akan diberikan keteknisi, untuk mengeksekusi pekerjaan terhadap schedul tersebut dan supervesor engineering untuk
memonitor kerja.

3.7       Cost
Adalah Pengertian/Definisi dari Biaya Perawatan (Maintenance Expenses) yaitu  Biaya yang harus dikeluarkan untuk memelihara fixed assets (aktiva tetap)   agar tetap dalam keadaan baik dari waktu kewaktu, sehingga dapat dipakai bila diperlukan. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk perawatan fixed assets (aktiva tetap) secara langsung tidak menaikkan nilai fixed assets (aktiva tetap) yang bersangkutan. Sebab itu seluruh pengeluaran untuk perawatan fixed assets (aktiva tetap) ini dibukukan pada perkiraan Biaya Perawatan (Maintenance Expenses).

BAB 4
SASARAN MAINTENANCE

4.1       Sasaran Perencanaan Perawatan
Sasaran perencanaan perawatan :
• Bagian khusus dari pabrik dan fasilitas yang akan dirawat.
• Bentuk, metode dan bagaimana tiap bagian itu dirawat.
• Alat perkakas dan cara penggantian suku cadang.
• Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perawatan.
• Frekwensi perawatan yang perlu dilakukan.
• Sistem Pengelolaan pekerjaan.
• Metode untuk menganalisis pekerjaan.
Dasar-dasar pokok yang menunjang dalam pembentukan sistem perawatan:
• Jadwal kegiatan perawatan untuk semua fasilitas pabrik.
• Jadwal kegiatan perawatan lengkap untuk masing-masing tugas yang harus dilakukan pada tiap bagian.
• Program yang menunjukkan kapan tiap tugas harus dilakukan.
• Metode yang menjamin program perawatan dapat berhasil.
• Metode pencatatan hasil dan penilaian keberhasilan program perawatan.

4.2       Faktor-Faktor Eksternal
·  Manufacturer recommendations
Sparepart pabrikan dari equipment yang kita miliki, mengharuskan kita untuk selalu menggunakan jenis / merk tertentu untuk memastikan equipment dapat berjalan dengan lancar.
·  Legal requirements
Adanya Hukum / Aturan perlindungan tenaga kerja yang berhubungan dengan keselamatan kerja, misal HSE / K3S. Sehingga membutuhkan alat safety tertentu untuk memastikan keselamatan bekerja pada karyawan ketika bekerja untuk memperbaiki equipment tertentu
·  Environmental requirements
Adanya upaya pencegahan kerusakan alam yang bisa jadi disebabkan oleh equipment, sehingga di butuhkan perawatkan extra agar mencegah terjadinya kerusakan alam.
·  Quality Assurance
Kualitas dari produksi manufaktur juga bergantung pada kualitas mesin itu sendiri. Jika ada suatu aturan yang mengatur kualitas suatu produk untuk layak tidaknya digunakan oleh konsumen, maka untuk menjaga kualitas dari produksi, kualitas dari mesin pun harus dijaga dari kerusakan yang dapat berdampak pada hasil produksi.
4.3       Faktor-Faktor Internal
a. Ruang lingkup pekerjaan.
Untuk tindakan yang tepat, pekerjaan yang dilakukan perlu diberi petunjuk atau pengarahan yang lengkap dan jelas. Pengadaan gambar-gambar atau skema dapat membantu dalam melakukan pekerjaan.
b. Lokasi pekerjaan.
Lokasi pekerjaan yang tepat dimana tugas dilakukan, merupakan informasi yang mempercepat pelaksanaan pekerjaan. Penunjukan lokasi akan mudah dengan memberi kode tertentu, misalnya nomor gedung, nomor departemen dllsb.
c. Prioritas pekerjaan.
Prioritas pekerjaan harus dikontrol sehingga pekerjaan dilakukan sesuai dengan urutan yang benar. Jika suatu mesin mempunyai peranan penting, maka perlu memberi mesin tersebut prioritas utama.
d. Metode yang digunakan.
“Membeli kemudian memasang” sangat berbeda artinya dengan “membuat kemudian memasang”. Meskipun banyak pekerjaan bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun akan lebih baik jika penyelesaian pekerjaan tersebut dilakukan dengan metode yang sesuai dengan keahlian yang dipunyai.
e.  Kebutuhan material.
Apabila ruang lingkup dan metode kerja yang digunakan telah ditentukan, maka biasa diikuti dengan adanya kebutuhan material. Material yang dibutuhkan ini harus selalu tersedia.
f.  Kebutuhan alat perkakas.
Sebaiknya alat yang khusus perlu diberi tanda pengenal agar mudah penyediaannya bila akan digunakan. Kunci momen, dongkrak adalah termasuk alat-alat khusus yang perlu ditentukan kebutuhannya.
g. Kebutuhan keahlian.
          Keahlian yang dimiliki seorang pekerja akan memudahkan dia bekerja.
h. Kebutuhan tenaga kerja.
Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan harus ditentukan untuk setiap jenis keahlian. Hal ini berguna dalam ketetapan pengawasannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar